
Laporan
Observasi Masyarakat Nelayan di Tanjung Emas Semarang
Disusun untuk memenuhi tugas UTS
mata kuliah Sosiologi Terapan
Dosen Pengampu: Thrywati Arsal
Disusun
oleh :
Sekar
Arum Ngarasati (3401413026)
JURUSAN SOSIOLOGI ANTROPOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
Pelabuhan
Tanjung Emas adalah sebuah pelabuhan di Semarang,
Jawa Tengah. Pelabuhan Tanjung Emas (terkadang ada yang menulis Tanjung Mas),
dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) sejak tahun 1985. Pelabuhan
ini merupakan satu-satunya pelabuhan di Kota Semarang. Pelabuhan Tanjung Emas
ke arah Tugu Muda Semarang berjarak sekitar 5 km atau kira-kira 30 menit dengan
kendaraan sepeda motor atau mobil.
Observasi
yang dilakukan pada hari Sabtu, 25 Oktober 2014 di Tambak Mulyo, Tanjung Emas,
Semarang. Observasi yang dilakukan sekitar 2 jam mendapatkan informasi yang
dapat saya tulis di dalam laporan ini. Di kampung nelayan ini penduduknya mayoritas
90% nelayan. Dan yang lainnya buruh pabrik di daerah kawasan Semarang. Nelayan
di desa ini kebanyakan nelayan udang dan kerang hijau. Ikan laut jarang
dijumpai di daerah laut tersebut. Biasanya para nelayan memberikan hasilnya
kepada bos-bos yang ada di desa tersebut. Hampir setiap RW mempunyai bos-bos
penampung udang maupun kerang hijau.
Permukiman
yang letaknya tepat berada di bibir pantai ini adalah kampung yang mayoritas
penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan. Kampung–kampung di pesisir seperti
kampung nelayan sangat potensial menjadi daerah yang kumuh dengan masyarakat
yang mayoritas adalah masyarakat kurang mampu. Permukiman nelayan adalah
perkampungan yang mendiami daerah kepulauan, sepanjang pesisir termasuk danau
dan sepanjang aliran sungai. Penduduk yang tinggal di kampung nelayan memiliki
karakteristik berupa masyarakat tradisional dengan kondisi sosial ekonomi dan
latar belakang pendidikan yang relatif terbatas. Kondisi sosial masyarakat
kampung nelayan yang seperti ini membuat mereka sulit untuk mendapatkan
kebutuhan bermukim yang memadai. Bahkan masyarakat kampung nelayan cenderung
menjadi subyek yang menanggung permasalahan yang terdapat di lingkungan tempat
tinggal mereka. Hal ini terjadi dikarenakan beberapa faktor, yaitu rendahnya
pengetahuan dan lemahnya ekonomi sehingga aktivitas mereka juga sering
menyebabkan tekanan terhadap lingkungan kampung nelayan yang berlanjut pada
kerusakan pada ekosistem yang ada disana.
Menurut
salah satu narasumber yang saya temui yaitu Bapak Triyanto (46 tahun) dan Ibu
Yumroah masyarakatnya hampir 90%
nelayan. Kebanyakan nelayan udang setelah itu rajungan. Udang itu
musiman kalau akhir januari udangnya banyak. Banyak nelayan yang mempunyai
pekerjaan sampingan yaitu ternak kerang hijau. Pendidikan di kampung nelayan
tersebut maksimal SMA 50%. Karena kebanyakan yang lulusan SMA atau SMK langsung
bekerja dan orang tuanya tidak mampu untuk membiayai anaknya kuliah. SD dan SMP
juga jauh tidak ada di desa tersebut sehingga membuat anak malas untuk bersekolah.
Pekerjaan menjadi seorang nelayan sekarang tidak turun temurun, karena remaja
sekarang tidak ingin menjadi nelayan seperti bapaknya. Kebanyakan lulusan SMA
atau SMK bekerja di pabrik. Penghasilan sebagai seorang nelayan tidak bisa
ditentukan. Biasanya kalau bulan Januari udangnya banyak penghasilan rata-rata
per hari Rp 200.000 sampai Rp 300.000. Jika tidak ada udang penghasilannya
perhari tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari dan para nelayan mencari
kerang hijau dengan penghasilan per hari Rp 100.000. Perkumpulan di desa
tersebut yaitu ibu-ibu arisan, posyandu dan setiap malam jum’at atau jum’at sudah
menjadi perkumpulan rutin. Interaksinya kurang di dalam kampung nelayan
tersebut antar RT. Kadang-kadang susah untuk kumpul membetulkan jalan yang ada
di depan rumah-rumah. Sehingga dalam hal kerja bakti kurang kompak. Penduduk
sekitar mayoritas agamanya Islam. Masjid yang ada di kampung nelayan tersebut
kurang bahkan jika sholat jum’at maupun sholat ID masjidnya jauh. Para nelayan
biasanya bekerja pukul 06.00 WIB sampai 14.00 WIB dan ada yang sehabis magrib
sampai pagi. Kalau musim penghujan para nelayan tetap berangkat paling 2 jam
karena gelombangnya besar. Hasil-hasil penangkapannya di jual di tengkulak
biasa tidak ke bos besar. Dijual ke bakul seret siapa yang berani harganya
besar maka disitulah akan dijual hasil penangkapannya. Jika dijual di Tempat
Pelelangan Ikan (TPI) udang harga lelangannya kurang. Kepemilikan kapal
semuanya milik sendiri. Mereka tidak lagi menggunakan kapal bos-bos untuk mencari
ikan. Mereka sudah mempunyai kapal sendiri-sendiri walaupun ada yang meminjam
uang di bank untuk membeli kapal. Kapal milik sendiri saat mencari udang atau
kerang hijau maksimal 2 orang. Sedangkan pada saat mencari ikan teri biasanya
kapal di isi 8 sampai 10 orang dan menggunakan kapal yang besar dan masih
jarang yang memiliki kapal tersebut. Dalam mencari ikan teri, para nelayan
bekerja sama dan sudah mempunyai tugas masing-masing apa yang harus dilakukan
setiap orangnya. Di kampung nelayan tersebut juga terdapat kambing-kambing liar
bahkan ada yang masuk ke rumah-rumah penduduk sekitar. Kambing-kambing tersebut
milik 1 orang dan beranak sehingga kambingnya banyak. 90% penduduk Tambak Mulyo
penduduknya asli Demak. Dan yang lainnya berasal dari Semarang, Kedung, Jepara,
dan Surabaya.
Menurut
narasumber yaitu Bu Nur dan Mba Barokah yang saya temui, 90% penduduknya
pekerjaannya nelayan. Ibu-ibu rumah tangga di sekitar membantu suaminya yaitu
menjadi buruh kupas kerang hijau. Kerang-kerang tersebut diambil di bos yang
menampung hasil tangkapan para nelayan. 1 kgnya kerang hijau Rp 2500 diterima
oleh buruh kupas kerang. Penghasilan sebagai buruh kupas kerang dapat membantu
suaminya walaupun tidak seberapa. Selain bekerja menjadi buruh kupas kerang,
ada yang menjadi penjahit, momong cucu. Arisan yang diadakan ibu-ibu biasanya
diadakan sebulan sekali pada minggu kedua. Di kampung nelayan tersebut sangat
jarang ada kerja bakti. Remaja rata-rata bekerja di pabrik jarang yang nelayan
seperti bapaknya. Pendidikan di kampung nelayan ini rata-rata lulusan SMP dan
SMA. Sekarang nelayan yang mencari udang jarang mencari udang mereka lebih
memilih untuk mencari kerang hijau. Karena mencari udang bensinnya tidak cukup
1 liter saja, sedangkan mencari kerang hijau 2 hari bisa 1 liter. Mencari
kerang biasanya jam 7 sampai jam 8 tidak seperti mencari udang harus
berjam-jam. Rata-rata penduduknya rukun tidak ada yang bermusuhan.
Menurut
Pak Harno (45 tahun), Pak Harno sudah menjadi nelayan 20 tahun. Pak Harnoo
tinggal di Tambak Mulyo RT 07 RW 15 dan merupakan penduduk asli Semarang.
Penduduk di kampung nelayan rata-rata pekerjaannya nelayan. Penduduknya
kebanyakan berasal dari Demak. Para nelayan mulai mencari ikan sehabis subuh
sampai habis dhhur, dan berangkat lagi habis maghrib sampai pagi. Kegiatan
nelayan ya mencari ikan, lalu hasilnya diserahkan kepada penampung hasil
penangkapan. Ikan yang ditangkap oleh Pak Harno ikan apa saja ada ikan teri,
ikan tongkol, ikan kakap, dan lain-lain. Kerang hijau yang dijual kepada para
tengkulak 1 kg Rp 10.000. Pak Harno lebih sering mencari kerang hijau karena
hasilnya lebih banyak dibandingkan mencari ikan. Jika musim udang ya Pa Harno
lebih sering mencari udang karena udang musiman dan akan mendapatkan hasil yang
banyak juga. Penghasilan Pak Harno jika mencari kerang hijau setiap harinya
dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Menutut
Bapak H.Purnam salah satu narasumber saya, penduduk di Tambak Mulyo 90%
pekerjaannya nelayan. Pak H. Purnam merupakan tengkulak atau penampung kerang
hijau dan rajungan dari para nelayan. Dulunya Pak Purnam menjadi nelayan dan
sudah 20 tahun sudah tidak menjadi nelayan tetapi menjadi penampung kerang
hijau dan rajungan. Usia Pak Purnam kini 75 tahun dan dapat disimpulkan menjadi
nelayan hingga puluhan tahun lamanya. Kerang-kerang yang ditampung 1 kg Rp
10.000 dan setiap harinya mendapatkan puluhan kg dari para nelayannya.
Kerang-kerang tersebut dibawa ke pabrik-pabrik kawasan Terboyo untuk dikirim
kembali dan ada yang untuk dikonsumsi. Kerang-kerang tersebut tidak dijual di
pasar karena harganya tidak semahal harga pabrik-pabrik di Terboyo. Pak Purnam
menjadi penampung kerang di bantu oleh istrinya. Para nelayanpunbanyak yang
berdatangan kesitu karena sudah terbiasa menjual hasil tangkapannya kepada Pak
Purnam. Pak Purnam tidak memiliki pekerjaan sampingan selain menjadi penampung
kerang. Menurutnya, nelayan yang satu dengan nelayan yang lainnya saling akrab
tidak ada perselisihan karena hasil tangkapannya lebih banyak atau lebih sedikit.
Kesimpulan
90%
penduduknya pekerjaannya nelayan dan ibu-ibu rumah tangga di sekitar membantu
suaminya yaitu menjadi buruh kupas kerang hijau. 90% penduduk Tambak Mulyo
penduduknya asli Demak. Dan yang lainnya berasal dari Semarang, Kedung, Jepara,
dan Surabaya.
Interaksi
yang terjadi di masyarakat kampung nelayan Tambak Mulyo, muncul dalam bentuk
kerjasama untuk membeli alat perlengkapan mencari udang ataupun ikan
teri. Dalam hal ini mereka mengumpulkan uang atau iuran untuk membeli alat
melaut. Dalam menangkap ikan teri mereka sekitar 8 sampai 10 orang bersama sama
menangkap ikan dan ada tugasnya masing-masing.
Masyarakat
disinipun masih sangat menjunjung tinggi solidaritas, terbukti apabila ada yang
sakit, maka tetangganya semuanya akan menjenguknya tanpa dikomando. Tidak dapat
dipungkiri pula bahwa di dalam masyarakat Tambak Mulyo ini tidak
jauh dari pertikaian. Pertikaian akan muncul ketika menyangkut dengan adat.
Selama ini kebijakan yang diputuskan oleh kepala desa masih bisa diterima oleh
warga, seperti kerja bakti untuk membersihkan tempat yang digunakan untuk
pengolahan, dalam waktu 1 minggu sekali yaitu pada malam jum’at atau hari
jum’at. Penduduk yang tinggal di kampung nelayan memiliki karakteristik berupa
masyarakat tradisional dengan kondisi sosial ekonomi dan latar belakang
pendidikan yang relatif terbatas.
Penduduk
sekitar mayoritas agamanya Islam. Masjid yang ada di kampung nelayan tersebut
kurang bahkan jika sholat jum’at maupun sholat ID masjidnya jauh.
Dalam
masyarakat nelayan ini juga tidak lepas dari suatu persaingan, namun
persaingannya lebih ke bidang ekonomi atau perdagangan. Penyebab dari munculnya
hal ini karena semua nelayan ingin mendapatkan pembeli dan ikan atau udang yang
banyak, tetapi ada beberapa kendala yang mereka hadapi seperti, alat yang
digunakan nelayan, yang mempunyai modal yang besar lebih mudah mendapatkan ikan
atau udang dengan alat yang modern, namun mereka yang mempunnyai modal yang
kecil ada suatu kendala dalam alat yang digunakan untuk menacari ikannya. Namun
persaingan ini tidak terlalu kelihatan dan tidak sampai merusak kerukunan antar
nelayan atau antar kelompok nelayan yang ada di rembang. Persaingan yang
dilakukan masih dalam batas kewajaran, tidak sampai menimbulkan konflik atau
perpecahan yang merugikan orang lain.
Dalam
pembelian mesin kapal mereka juga bekerjasama dengan daerah lain, karena para
nelayan tidak hanya membutuhkan satu mesin tapi beberapa, dan mereka tidak
langsung membayar dalam pembelian itu, namun dengan mengangsur atau membayar
dengan kredit. Bahkan ada juga nelayan yang meminjam uang ke bank untuk membeli
kapal dan mesin yang diperlukan. Karena sekarang kepemilikkan kapal sudah tidak
lagi dimiliki oleh bos-bos saja, tetapi hampir setiap nelayan mempunyai kapal
sendiri.
Para
nelayan biasanya bekerja pukul 06.00 WIB sampai 14.00 WIB dan ada yang sehabis
magrib sampai pagi. Kalau musim penghujan para nelayan tetap berangkat paling 2
jam karena gelombangnya besar.
Pendidikan
di kampung nelayan tersebut maksimal SMA 50%. Karena kebanyakan yang lulusan
SMA atau SMK langsung bekerja dan orang tuanya tidak mampu untuk membiayai
anaknya kuliah. SD dan SMP juga jauh tidak ada di desa tersebut sehingga
membuat anak malas untuk bersekolah. Pekerjaan menjadi seorang nelayan sekarang
tidak turun temurun, karena remaja sekarang tidak ingin menjadi nelayan seperti
bapaknya. Kebanyakan lulusan SMA atau SMK bekerja di pabrik.
Sekarang
nelayan yang mencari udang jarang mencari udang mereka lebih memilih untuk
mencari kerang hijau. Karena mencari udang bensinnya tidak cukup 1 liter saja,
sedangkan mencari kerang hijau 2 hari bisa 1 liter. Mencari kerang biasanya jam
7 sampai jam 8 tidak seperti mencari udang harus berjam-jam.
Di
dalam kampung nelayan Tambak Mulyo juga terdapat konveksi. Pekerjanya adalah
istri dari para nelayan yang sebelumnya telah diajarkan untuk menjahit.
Limbah-limbah kain dari konveksi tersebut menggunung di depan rumah atau di
samping rumah hal ini menyebabkan lingkungan menjadi kotor karena limbah-limbah
konveksi tersebut.
Limbah-limbah
kerang hijau ada di luar rumah-rumah dan menjadikan pemandangan tidak enak
untuk dilihat. Bentuk model rumah-rumah di kampung nelayan yang saya amati,
bentuk rumahnya kecil-kecil atapnya tidak tinggi, dan rumahnya rata dengan
jalan.















