Welcome

Sosant Unnes 2013

Rabu, 12 November 2014

tugas penelitian masyarakat nelayan Tanjung Emas Semarang


Laporan Observasi Masyarakat Nelayan di Tanjung Emas Semarang
Disusun untuk memenuhi tugas UTS mata kuliah Sosiologi Terapan
Dosen Pengampu: Thrywati Arsal




Disusun oleh   :
Sekar Arum Ngarasati             (3401413026)




JURUSAN SOSIOLOGI ANTROPOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014
Pelabuhan Tanjung Emas adalah sebuah pelabuhan di Semarang, Jawa Tengah. Pelabuhan Tanjung Emas (terkadang ada yang menulis Tanjung Mas), dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) sejak tahun 1985. Pelabuhan ini merupakan satu-satunya pelabuhan di Kota Semarang. Pelabuhan Tanjung Emas ke arah Tugu Muda Semarang berjarak sekitar 5 km atau kira-kira 30 menit dengan kendaraan sepeda motor atau mobil.
Observasi yang dilakukan pada hari Sabtu, 25 Oktober 2014 di Tambak Mulyo, Tanjung Emas, Semarang. Observasi yang dilakukan sekitar 2 jam mendapatkan informasi yang dapat saya tulis di dalam laporan ini. Di kampung nelayan ini penduduknya mayoritas 90% nelayan. Dan yang lainnya buruh pabrik di daerah kawasan Semarang. Nelayan di desa ini kebanyakan nelayan udang dan kerang hijau. Ikan laut jarang dijumpai di daerah laut tersebut. Biasanya para nelayan memberikan hasilnya kepada bos-bos yang ada di desa tersebut. Hampir setiap RW mempunyai bos-bos penampung udang maupun kerang hijau.
Permukiman yang letaknya tepat berada di bibir pantai ini adalah kampung yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan. Kampung–kampung di pesisir seperti kampung nelayan sangat potensial menjadi daerah yang kumuh dengan masyarakat yang mayoritas adalah masyarakat kurang mampu. Permukiman nelayan adalah perkampungan yang mendiami daerah kepulauan, sepanjang pesisir termasuk danau dan sepanjang aliran sungai. Penduduk yang tinggal di kampung nelayan memiliki karakteristik berupa masyarakat tradisional dengan kondisi sosial ekonomi dan latar belakang pendidikan yang relatif terbatas. Kondisi sosial masyarakat kampung nelayan yang seperti ini membuat mereka sulit untuk mendapatkan kebutuhan bermukim yang memadai. Bahkan masyarakat kampung nelayan cenderung menjadi subyek yang menanggung permasalahan yang terdapat di lingkungan tempat tinggal mereka. Hal ini terjadi dikarenakan beberapa faktor, yaitu rendahnya pengetahuan dan lemahnya ekonomi sehingga aktivitas mereka juga sering menyebabkan tekanan terhadap lingkungan kampung nelayan yang berlanjut pada kerusakan pada ekosistem yang ada disana.
Menurut salah satu narasumber yang saya temui yaitu Bapak Triyanto (46 tahun) dan Ibu Yumroah masyarakatnya hampir 90%  nelayan. Kebanyakan nelayan udang setelah itu rajungan. Udang itu musiman kalau akhir januari udangnya banyak. Banyak nelayan yang mempunyai pekerjaan sampingan yaitu ternak kerang hijau. Pendidikan di kampung nelayan tersebut maksimal SMA 50%. Karena kebanyakan yang lulusan SMA atau SMK langsung bekerja dan orang tuanya tidak mampu untuk membiayai anaknya kuliah. SD dan SMP juga jauh tidak ada di desa tersebut sehingga membuat anak malas untuk bersekolah. Pekerjaan menjadi seorang nelayan sekarang tidak turun temurun, karena remaja sekarang tidak ingin menjadi nelayan seperti bapaknya. Kebanyakan lulusan SMA atau SMK bekerja di pabrik. Penghasilan sebagai seorang nelayan tidak bisa ditentukan. Biasanya kalau bulan Januari udangnya banyak penghasilan rata-rata per hari Rp 200.000 sampai Rp 300.000. Jika tidak ada udang penghasilannya perhari tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari dan para nelayan mencari kerang hijau dengan penghasilan per hari Rp 100.000. Perkumpulan di desa tersebut yaitu ibu-ibu arisan, posyandu dan setiap malam jum’at atau jum’at sudah menjadi perkumpulan rutin. Interaksinya kurang di dalam kampung nelayan tersebut antar RT. Kadang-kadang susah untuk kumpul membetulkan jalan yang ada di depan rumah-rumah. Sehingga dalam hal kerja bakti kurang kompak. Penduduk sekitar mayoritas agamanya Islam. Masjid yang ada di kampung nelayan tersebut kurang bahkan jika sholat jum’at maupun sholat ID masjidnya jauh. Para nelayan biasanya bekerja pukul 06.00 WIB sampai 14.00 WIB dan ada yang sehabis magrib sampai pagi. Kalau musim penghujan para nelayan tetap berangkat paling 2 jam karena gelombangnya besar. Hasil-hasil penangkapannya di jual di tengkulak biasa tidak ke bos besar. Dijual ke bakul seret siapa yang berani harganya besar maka disitulah akan dijual hasil penangkapannya. Jika dijual di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) udang harga lelangannya kurang. Kepemilikan kapal semuanya milik sendiri. Mereka tidak lagi menggunakan kapal bos-bos untuk mencari ikan. Mereka sudah mempunyai kapal sendiri-sendiri walaupun ada yang meminjam uang di bank untuk membeli kapal. Kapal milik sendiri saat mencari udang atau kerang hijau maksimal 2 orang. Sedangkan pada saat mencari ikan teri biasanya kapal di isi 8 sampai 10 orang dan menggunakan kapal yang besar dan masih jarang yang memiliki kapal tersebut. Dalam mencari ikan teri, para nelayan bekerja sama dan sudah mempunyai tugas masing-masing apa yang harus dilakukan setiap orangnya. Di kampung nelayan tersebut juga terdapat kambing-kambing liar bahkan ada yang masuk ke rumah-rumah penduduk sekitar. Kambing-kambing tersebut milik 1 orang dan beranak sehingga kambingnya banyak. 90% penduduk Tambak Mulyo penduduknya asli Demak. Dan yang lainnya berasal dari Semarang, Kedung, Jepara, dan Surabaya.
Menurut narasumber yaitu Bu Nur dan Mba Barokah yang saya temui, 90% penduduknya pekerjaannya nelayan. Ibu-ibu rumah tangga di sekitar membantu suaminya yaitu menjadi buruh kupas kerang hijau. Kerang-kerang tersebut diambil di bos yang menampung hasil tangkapan para nelayan. 1 kgnya kerang hijau Rp 2500 diterima oleh buruh kupas kerang. Penghasilan sebagai buruh kupas kerang dapat membantu suaminya walaupun tidak seberapa. Selain bekerja menjadi buruh kupas kerang, ada yang menjadi penjahit, momong cucu. Arisan yang diadakan ibu-ibu biasanya diadakan sebulan sekali pada minggu kedua. Di kampung nelayan tersebut sangat jarang ada kerja bakti. Remaja rata-rata bekerja di pabrik jarang yang nelayan seperti bapaknya. Pendidikan di kampung nelayan ini rata-rata lulusan SMP dan SMA. Sekarang nelayan yang mencari udang jarang mencari udang mereka lebih memilih untuk mencari kerang hijau. Karena mencari udang bensinnya tidak cukup 1 liter saja, sedangkan mencari kerang hijau 2 hari bisa 1 liter. Mencari kerang biasanya jam 7 sampai jam 8 tidak seperti mencari udang harus berjam-jam. Rata-rata penduduknya rukun tidak ada yang bermusuhan.
Menurut Pak Harno (45 tahun), Pak Harno sudah menjadi nelayan 20 tahun. Pak Harnoo tinggal di Tambak Mulyo RT 07 RW 15 dan merupakan penduduk asli Semarang. Penduduk di kampung nelayan rata-rata pekerjaannya nelayan. Penduduknya kebanyakan berasal dari Demak. Para nelayan mulai mencari ikan sehabis subuh sampai habis dhhur, dan berangkat lagi habis maghrib sampai pagi. Kegiatan nelayan ya mencari ikan, lalu hasilnya diserahkan kepada penampung hasil penangkapan. Ikan yang ditangkap oleh Pak Harno ikan apa saja ada ikan teri, ikan tongkol, ikan kakap, dan lain-lain. Kerang hijau yang dijual kepada para tengkulak 1 kg Rp 10.000. Pak Harno lebih sering mencari kerang hijau karena hasilnya lebih banyak dibandingkan mencari ikan. Jika musim udang ya Pa Harno lebih sering mencari udang karena udang musiman dan akan mendapatkan hasil yang banyak juga. Penghasilan Pak Harno jika mencari kerang hijau setiap harinya dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Menutut Bapak H.Purnam salah satu narasumber saya, penduduk di Tambak Mulyo 90% pekerjaannya nelayan. Pak H. Purnam merupakan tengkulak atau penampung kerang hijau dan rajungan dari para nelayan. Dulunya Pak Purnam menjadi nelayan dan sudah 20 tahun sudah tidak menjadi nelayan tetapi menjadi penampung kerang hijau dan rajungan. Usia Pak Purnam kini 75 tahun dan dapat disimpulkan menjadi nelayan hingga puluhan tahun lamanya. Kerang-kerang yang ditampung 1 kg Rp 10.000 dan setiap harinya mendapatkan puluhan kg dari para nelayannya. Kerang-kerang tersebut dibawa ke pabrik-pabrik kawasan Terboyo untuk dikirim kembali dan ada yang untuk dikonsumsi. Kerang-kerang tersebut tidak dijual di pasar karena harganya tidak semahal harga pabrik-pabrik di Terboyo. Pak Purnam menjadi penampung kerang di bantu oleh istrinya. Para nelayanpunbanyak yang berdatangan kesitu karena sudah terbiasa menjual hasil tangkapannya kepada Pak Purnam. Pak Purnam tidak memiliki pekerjaan sampingan selain menjadi penampung kerang. Menurutnya, nelayan yang satu dengan nelayan yang lainnya saling akrab tidak ada perselisihan karena hasil tangkapannya lebih banyak atau lebih sedikit.
Kesimpulan
90% penduduknya pekerjaannya nelayan dan ibu-ibu rumah tangga di sekitar membantu suaminya yaitu menjadi buruh kupas kerang hijau. 90% penduduk Tambak Mulyo penduduknya asli Demak. Dan yang lainnya berasal dari Semarang, Kedung, Jepara, dan Surabaya.
Interaksi yang terjadi di masyarakat kampung nelayan Tambak Mulyo, muncul dalam bentuk kerjasama untuk membeli alat perlengkapan mencari udang ataupun ikan teri. Dalam hal ini mereka mengumpulkan uang atau iuran untuk membeli alat melaut. Dalam menangkap ikan teri mereka sekitar 8 sampai 10 orang bersama sama menangkap ikan dan ada tugasnya masing-masing.
Masyarakat disinipun masih sangat menjunjung tinggi solidaritas, terbukti apabila ada yang sakit, maka tetangganya semuanya akan menjenguknya tanpa dikomando. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa  di dalam masyarakat Tambak Mulyo ini tidak jauh dari pertikaian. Pertikaian akan muncul ketika menyangkut dengan adat. Selama ini kebijakan yang diputuskan oleh kepala desa masih bisa diterima oleh warga, seperti kerja bakti untuk membersihkan tempat yang digunakan untuk pengolahan, dalam waktu 1 minggu sekali yaitu pada malam jum’at atau hari jum’at. Penduduk yang tinggal di kampung nelayan memiliki karakteristik berupa masyarakat tradisional dengan kondisi sosial ekonomi dan latar belakang pendidikan yang relatif terbatas.
Penduduk sekitar mayoritas agamanya Islam. Masjid yang ada di kampung nelayan tersebut kurang bahkan jika sholat jum’at maupun sholat ID masjidnya jauh.
Dalam masyarakat nelayan ini juga tidak lepas dari suatu persaingan, namun persaingannya lebih ke bidang ekonomi atau perdagangan. Penyebab dari munculnya hal ini karena semua nelayan ingin mendapatkan pembeli dan ikan atau udang yang banyak, tetapi ada beberapa kendala yang mereka hadapi seperti, alat yang digunakan nelayan, yang mempunyai modal yang besar lebih mudah mendapatkan ikan atau udang dengan alat yang modern, namun mereka yang mempunnyai modal yang kecil ada suatu kendala dalam alat yang digunakan untuk menacari ikannya. Namun persaingan ini tidak terlalu kelihatan dan tidak sampai merusak kerukunan antar nelayan atau antar kelompok nelayan yang ada di rembang. Persaingan yang dilakukan masih dalam batas kewajaran, tidak sampai menimbulkan konflik atau perpecahan yang merugikan orang lain.
Dalam pembelian mesin kapal mereka juga bekerjasama dengan daerah lain, karena para nelayan tidak hanya membutuhkan satu mesin tapi beberapa, dan mereka tidak langsung membayar dalam pembelian itu, namun dengan mengangsur atau membayar dengan kredit. Bahkan ada juga nelayan yang meminjam uang ke bank untuk membeli kapal dan mesin yang diperlukan. Karena sekarang kepemilikkan kapal sudah tidak lagi dimiliki oleh bos-bos saja, tetapi hampir setiap nelayan mempunyai kapal sendiri.
Para nelayan biasanya bekerja pukul 06.00 WIB sampai 14.00 WIB dan ada yang sehabis magrib sampai pagi. Kalau musim penghujan para nelayan tetap berangkat paling 2 jam karena gelombangnya besar.
Pendidikan di kampung nelayan tersebut maksimal SMA 50%. Karena kebanyakan yang lulusan SMA atau SMK langsung bekerja dan orang tuanya tidak mampu untuk membiayai anaknya kuliah. SD dan SMP juga jauh tidak ada di desa tersebut sehingga membuat anak malas untuk bersekolah. Pekerjaan menjadi seorang nelayan sekarang tidak turun temurun, karena remaja sekarang tidak ingin menjadi nelayan seperti bapaknya. Kebanyakan lulusan SMA atau SMK bekerja di pabrik.
Sekarang nelayan yang mencari udang jarang mencari udang mereka lebih memilih untuk mencari kerang hijau. Karena mencari udang bensinnya tidak cukup 1 liter saja, sedangkan mencari kerang hijau 2 hari bisa 1 liter. Mencari kerang biasanya jam 7 sampai jam 8 tidak seperti mencari udang harus berjam-jam.
Di dalam kampung nelayan Tambak Mulyo juga terdapat konveksi. Pekerjanya adalah istri dari para nelayan yang sebelumnya telah diajarkan untuk menjahit. Limbah-limbah kain dari konveksi tersebut menggunung di depan rumah atau di samping rumah hal ini menyebabkan lingkungan menjadi kotor karena limbah-limbah konveksi tersebut.
Limbah-limbah kerang hijau ada di luar rumah-rumah dan menjadikan pemandangan tidak enak untuk dilihat. Bentuk model rumah-rumah di kampung nelayan yang saya amati, bentuk rumahnya kecil-kecil atapnya tidak tinggi, dan rumahnya rata dengan jalan.







UTS Studi Mayarakat Indonesia

Nama               : Sekar Arum Ngarasati                                                                      
NIM                : 3401413026
Rombel            : 1
UTS Studi Masyarakat Indonesia


1.         Menurut pendapat saya, konfigurasi masyarakat Indonesia semuanya dianggap sama sederajat atau horisontal. Karena Indonesia merupakan negara majemuk yang memiliki berbagai kebudayaan, suku bangsa, ras, adat, agama, bahasa dan sebagainya. Oleh karena itu masyarakat Indonesia menganggap semuanya sederajat tidak boleh membeda-bedakan kebudayaan, agama, suku bangsa lainnya. Disini kita tidak boleh bersikap primordialisme dan stereotip, kita harus berpegang teguh pada “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Walaupun ada tingkatan secara vertikal tetapi kita tidak boleh membeda-bedakan dengan masyarakat yang lainnya.
Masyarakat Indonesia secara horisontal terdiri dari kesatuan-kesatuan sosial, yaitu perbedaan suku bangsa, agama, adat, kedaerahan, bahasa, dan sebagainya. Sedangkan secara vertikal adanya perbedaan-perbedaan antara lapisan atas dan bawah, baik secara politik maupun ekonomi. Hal ini menumbuhkan konfigurasi masyarakat Indonesia yang multi dimensional, yang berarti secara horisontal adalah bagaimana masyarakat Indonesia terintegrasi secara horisontal. Sedangkan secara vertikal, stratifikasi sosial akan memberi bentuk pada integrasi nasional yang bersifat vertikal.[1]
2.         Bangunan sosial masyarakat Indonesia yang dibentuk melalui pendidikan yang dilakukan di Indonesia, mengapa sampai sekarang ini masyarakat Indonesia
sebagai masyarakat yang multikultur masih menjadi sebuah cita-cita bangsa Indonesia. Berikut ini merupakan kasus yang terjadi pada sistem pendidikan di Indonesia dengan meletakan mengapa masyarakat kita masih terkonfigurasi dengan kuat sebagai masyarakat majemuk dengan sifat primordial yang tinggi, sehingga mengakibatkan streotip dan diskriminasi, hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
Multikulturalisme berasal dari adanya suatu kebudayaan yang beraneka ragam.[2] Multikulturalisme di Indonesia merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindarkan. Namun pada kenyataannya kondisi demikian tidak pula diiringi dengan keadaan sosial yang membaik. Bahakan banyak permasalahan-permasalahan yang menyebabkan konflik antar suku, bangsa, ras, dan sebagainya. Seiring dengan perkembangan zaman, banyak terjadi krisis sosial-budaya yang terjadi di masyarakat. Misalnya seperti merosotnya penghargaan dan kepatuhan terhadap hukum, etika, moral, dan agama. Semakin banyaknya wanita-wanita yang bekerja menjadi wanita tuna susila, kasus tentang pedophilia yang sedang marak di Indonesia, semakin luasnya penyebaran narkotika, dan semakin banyaknya homoseksual di masyarkaat Indonesia. Oleh karena itu, pendidikan dianggap tempat yang tepat untuk membangun kesadaran multikulturalisme di Indonesia. Pendidikan multikultural yang sekarang ini diberikan kepada peserta didik mulai sejak SD sesuai dengan Kurikulum 2013. Melalui pendidikan multikultural, diharapkan dapat mewujudkan keteraturan dalam kehidupan sosial-budaya di Indonesia.
Bangunan sosial masyarakat Indonesia yang terbentuk melalui sistem pendidikan di Indonesia masihlah sangat jauh dari cita-cita masyarakat multikutur Indonesia. Masyarakat Indonesia dewasa ini masih terkonfigurasi dengan kuat sebagai masyarakat majemuk dengan sifat primordial yang tinggi, sehingga mengakibatkan stereotip dan diskriminasi.
Contoh yang sering kita jumpai adalah orang Tionghoa yang dianggap sebagai kaum minoritas di Indonesia, sangat jarang untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Masyarakat Indonesia menganggap orang Tionghoa identik dengan “pelit atau kikir” serba-serba diperhitungkan. Dan masyarakat tidak ingin kaum minoritas dapat menguasai Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat masih mempunyai sifat diskriminasi terhadap orang Tionghoa. Padahal, sebagai negara yang multikultur, kita tidak boleh mempunyai sifat primordial yang tinggi, sehingga mengakibatkan stereotip dan diskriminasi. Melalui pendidikan multikultur, diharapkan bangsa Indonesia dapat menghilangkan sifat primordial, stereotip, dan diskriminasinya terhadap suku, agama, ras, yang berbeda dengan kita. Mempunyai sifat toleransi yang tinggi itu memang sulit, tetapi hal ini menjadikan tantangan kita semua agar bangsa Indonesia tidak tepecah belah bahkan adanya sifat diskriminasi seperti contoh diatas.
Masyarakat Indonesia secara horizontal terdiri dari kesatuan-kesatuan sosial yaitu perbedaan suku bangsa, agama, adat, kedaerahan, bahasa dan sebagainya. Sedang secara vertikal adanya perbedaan-perbedaan antar lapisan atas dan bawah baik secara politik maupun ekonomi . Hal inilah yang menumbuhkan konfigurasi masyarakat Indonesia yang dimensional, yang berarti secara horisontal adalah bagaiamana masyarakat Indonesia terintegrasi secara horizontal. Sedang secara vertikal, stratifikasi sosial akan memberi bentuk pada integrasi nasional yang bersifat vertikal. Masih menjadi cita-citanya masyarakat multikultur di Indonesia yang seperti yang telah dijelaskan diatas tidak terlepas dari beberapa kasus yang terjadi pada sistem pendidikan multikutural di Indonesia. 
Maka, penyelenggaraan pendidikan multikultural dapat dikatakann berhasil apabila terbentuk pada diri setiap peserta didik sikap saling toleransi, tidak bermusuhan, dan tidak berkonflik yang disebabkan oleh perbedaan budaya, suku, bahasa, dan lain sebagainya. Menurut Stephen Hill, pendidikan multikultural dikatakan berhasil apabila prosesnya melibatkan semua elemen masyarakat. Hal itu dikarenakan adanya multidimensi aspek kehidupan yang tercakup dalam pendidikan multikultural.[3]
3.         a) Sistem yang ada dalam masyarakat itu sifatnya dinamis, masyarakatnya pun semakin banyak sehingga memiliki sifat berbeda-beda yang menginginkan adanya perubahan untuk menjadi lebih baik. Akibat dari perubahan sosial-budaya ada yang berdampak negatif, ada yang berdampak positif. Setiap perubahan pasti mempunyai dampak entah itu ada yang menyukainya kemudian diambil manfaatnya ataupun ada yang tidak menyukainya. Peristiwa perubahan sosial-budaya terjadi karena semakin berkembangnya IPTEK yang mengakibatkan masyarakat semakin berkembang mengalami perubahan sosial-budaya. Akibat perubahan sosial-budaya dikaitkan dengan masyarakat yang semakin global, antara lain sebagai berikut :
a.    Menimbulkan krisis ekonomi dan moneter yang berkepanjangan dan sulit diatasi, menyebabkan naiknya harga barang-barang kebutuhan pokok serta rendahnya daya beli masyarakat;
b.    Menimbulkan konflik antar elite dan golongan politik, sehingga menghambat jalannya roda pemerintah dan pelaksanaan pembangunan;
c.    Menimbulkan konflik antar suku bangsa, antar golongan, atau antar kelas sosial, sehingga menyebabkan timbulnya perilaku anarkisme, terorisme, sekularisme, primordialisme, separalisme, dan sebagainya;
d.    Menimbulkan perubahan sosial dan budaya yang terlalu cepat, sehingga terjadi perubahan nilai dan norma sosial, perubahan pranata dan lembaga sosial, perubahan pandangn hidup, perubahan sistem dan struktur pemerintahan, dan sebagainya.
            Tantangan untuk mencapai masyarakat multikultur di Indonesia diperlukan upaya-upaya dengan cara dan langkah yang tepat. Pertama, menyebarkan konsep multikulturalisme secara luas dan memahamkan akan pentingnya multikulturalisme bagi bangsa Indonesia, serta mendorong keinginan bangsa Indonesia pada tingkat nasional maupun lokal untuk mengadopsi dan menjadi pedoman hidupnya. Kedua, membentuk kesamaan pemahaman di antaran para ahli mengenai makna multikulturalisme dan konsep-konsep yang mendukungnya. Ketiga, berbagai upaya dilakukan untuk dapat mewujudkan cita-cita ini.
b) Pendekatan yang digunakan dalam SMI yaitu pendekatan fungsionalisme. Pendekatan fungsionalisme struktural sebagaimana yang telah dikembangkan oleh Parsons dan para pengikutnya, dapat kita kaji melalui sejumlah anggapan dasar mereka sebagai berikut :
Masyarakat haruslah dilihat sebagai suatu sistem daripada bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lain. Dengan demikian hubungan pengaruh mempengaruhi di antara bagian-bagian tersebut adalah bersifat ganda dan timbal balik. Sekalipun integrasi sosial tidak pernah dapat dicapai dengan sempurna, namun secara fundamental sistem sosial selalu cenderung bergerak ke arah equilibrium yang bersifat dinamis. Sekalipun disfungsi, ketegangan-ketegangan, dan penyimpangan-penyimpangan senantiasa terjadi juga, akan tetapi di dalam jangka yang panjang keadaan tersebut akan teratasi dengan sendirinya pada akhirnya, melalui penyesuaian-penyesusaian dan proses institusionalisasi.
Perubahan-perubahan di dalam sistem sosial pada umumnya terjadi secara gradual, melalui penyesuaian-penyesuaian, dan tidak secara revolusioner. Pada dasarnya, perubahan-perubahan sosial timbul atau terjadi melalui tiga macam kemungkinan: penyesuaian yang dilakukan oleh sistem sosial tersebut, terhadap perubahan-perubahan yang datang dari luar (extra systemic change): pertumbuhan melalui proses diferensiasi struktural dan fungsional: serta penemuan-penemuan baru oleh anggota masyarakat.
Faktor paling penting yang memiliki daya menintegrasikan suatu sistem sosial adalah konsensus di antara para anggota masyarakat mengenai nilai-nilai kemasyarakatan tertentu. Dengan cara lain dapat dikatakan, bahwa suatu sistem sosial, pada dasarnya, tidak lain adalah suatu sistem daripada tindakan-tindakan. Ia terbentuk dari interaksi sosial yang terjadi di antara berbagai individu, yang tumbuh dan berkembang tidak secara kebetulan, melainkan tumbuh dan berkembang di atas standar penilaian umum yang disepakati bersama oleh para anggota masyarakat. Yang paling penting di antara berbagai standar penilaian umum tersebut, adalah apa yang kita kenal sebagai norma-norma sosial. Norma-norma sosial itulah yang sesungguhnya membentuk struktur sosial. Equilibrium dari suatu sistem sosial terjaga oleh beberapa proses dan mekanisme sosial. Dua macam mekanisme sosial yang paling penting untuk mengendalikan hasrat masyarakat pada tingkat dan arah yang menuju terpeliharanya kontinuitas sistem sosial, adalah mekanisme sosialisasi dan pengawasan sosial (social control).
Parson dan para pengikutnya tidak dapat dikatakan telah berhasil membawa pendekatan fungsionalisme struktural ketingkat perkembangan yang lebih berpengaruh pada pertumbuhan teori-teori sosiologi hingga saat ini.[4]
4. a) Perbedaan nilai sosial dan norma sosial :
    - Dilihat dari aspek cakupan, nilai sosial bisa pribadi dan kelompok sedangkan norma sosial hanya kelompok.
   - Dilihat dari aspek substansi, nilai sosial dasarnya adalah gagasan sedangkan norma sosial dasarnya adalah nilai.
   - Dilihat dari aspek essensi, nilai sosial digunakan sebagai faktor pendorong yang berkaitan dengan nilai-nilai yang berhubungan dengan cita-cita atau harapan, sebagai petunjuk arah: cara berpikir, berperasaan, bertindak, serta panduan menentukan pilihan; sebagai alat pengawas dengan tekan dan pengikat tertentu; sebagai alat solidaritas  di kalangan kelompok atau masyarakat; dan sebagai benteng perlindungan penjaga stabilitas budaya kelompok atau masyarakat. Sedangkan norma sosial digunakan sebagai faktor perilaku dalam suatu kelompok tertentu yang memungkinkan seseorang untuk menentukan terlebih dahulu bagaimana tindakannya akan dinilai orang lain; aturan dan sanksi-sanksi untuk mendorong seseorang, kelompok, atau masyarakat mencapai nilai-nilai sosial; dan merupakan aturan-aturan yang tumbuh dan hidup dalam masyarakat sebagai unsur pengikat dan pengendali manusia dalam hidup bermasyarakat.[5]
   - Dilihat dari  aspek aksidansi, nilai sosial tiap kepala mempunyai nilai: bisa sama dan bisa tidak dengan lingkungannya (perbedaan menuju kesamaan dalam kelompok (masyarakat)). Sedangkan norma sosial biasanya dalam satu masyarakat akan mengalami kecenderungan norma yang sama, minimal dalam pendukung kebudayaan yang sama.
b) Nilai sosial tidak otomatis dapat menjadi norma sosial dalam masyarakat. Karena nilai sebagai sesuatu yang baik, diinginkan, diharapkan, dan dianggap penting oleh masyarakat. Hal-hal tersebut menjadi acuan warga masyarakat dalam bertindak. Jadi, nilai sosial mengarahkan tindakan manusia. Wujud nilai dalam kehidupan itu merupakan sesuatu yang berharga sebab dapat membedakan yang benar dan yang salah, yang indah dan yang tidak indah, dan yang baik dan yang buruk. Wujud nilai dalam masyarakat berupa penghargaan, hukuman, pujian, dan sebagainya. Sedangkan Norma adalah aturan-aturan yang dilengkapi dengan sanksi-sanksi kepada orang yang melanggarnya. Atau dikatakan seperangkat tatanan baik yang tertulis maupun tidak tertulis, yang berlaku, dan merupakan pedoman sehari-hari dalam masyarakat. Dalam pelaksanaan, norma berlaku di segala bidang kehidupan misalnya kesenian, keagamaan, adat istiadat, dan pendidikan. Oleh karena itu nilai sosial tidak otomatis dapat menjadi norma sosial karena nilai sosial pada setiap daerah berbeda-beda dan tidak dapat disamakan antara daerah satu dengan daerah lainnya dan sifatnya tidak tertulis. sedangkan norma biasanya bersifat umum hampir semua hal tersebut mempunyai kesamaan dengan daerah yang lainnya dan sifatnya tertulis.
Contoh dalam kehidupan sehari-hari, pada masyarakat Jawa pada umumnya melarang anak perempuan keluar pada saat maghrib (pamali) ini termasuk nilai sosial karena suku Batak tidak menggunakan kepercayaan seperti ini. Hal ini membuktikan bahwa tidak sama antara nilai sosial dan norma sosial di suku Jawa dan suku Batak. Pada suku Jawa kebanyakan orang jika lewat di depan orang lain maka akan mengatakan “nuwun sewu” karena mengganggap orang yang di lewatinya adalah orang yang lebih tua ini termasuk dalam nilai sosial. Sedangkan pada suku Dayak jika melewati orang yang ada di depannya mereka akan diam saja bahkan acuh atau tidak peduli dengan di depannya. Hal ini membuktikan bahwa nilai sosial yang ada di setiap daerah berbeda-beda dan tidak dapat disamakan untuk dijadikan norma sosial.
c) Titik temu fungsi nilai sosial dan norma sosial terdapat pada fungsi nilai sosial sebagai faktor pendorong, hal ini berkaitan dengan nilai yang berhubungan dengan cita-cita atau harapan.  Pada norma sosial juga sebagai faktor perilaku dalam suatu kelompok tertentu yang memungkinkan seseorang untuk menentukan terlebih dahulu bagaimana tindakannya akan dinilai orang lain. Artinya, titik temu fungsi nilai sosial dan norma sosial terletak pada faktor pendorong seseorang melakukan tindakan tertentu. Jadi, nilai sosial dan norma sosial dapat berfungsi sama-sama untuk menentukan bagaimana tindakan yang akan dinilai oleh orang lain. Seseorang dalam menentukan tindakannya pasti akan memikirkan dahulu bagaimana tindakannya akan dinilai oleh orang lain sehingga tidak asal melakukan suatu tindakan.
5.         a. Struktur  masyarakat Indonesia ditandai oleh dua cirinya yang bersifat unik yaitu: (1) secara horizontal, ditandai oleh adanya kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan-perbedaan kedaerahan, (2) secara vertikal, struktur masyarakat indonesia ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan vertikal antara lapisan atas dan bawah yang cukup tajam (Nasikun, 1993: 28). Perbedaan – perbedaan suku bangsa, agama, adat istiadat dan kedaerahan dalam struktur sosial sering disebut sebagai ciri masyarakat majemuk (Nasikun, 1998: 28).[6] Perbedaan keunikan struktur masyarakat Indonesia dan negara lain dilihat dari garis horizontal adalah negara lain tidak memiliki kebudayaan, suku, ras, agama, bahasa, dan sebagainya sebanyak Indonesia. Jadi mereka lebih banyak homogennya dibandingkan Indonesia yang heterogen karena memiliki berbagai suku, agama, ras, kebudayaan, bahasa yang berbeda-beda. Dilihat dari garis vertikal, tingkatan masyarakat Indonesia agak lebih terstruktur dibandingkan dengan negara lain. Karena negaran lain mempunyai kaum mayoritas dan minoritas, kebanyakan dipimpin oleh seorang raja sehingga ada rakyat yang jelata. Sedangkan Indonesia ada tingkatannya berdasarkan kekayaan, kekuasaan dan wewenang, ilmu pengetahuan, dan kehormatan. Berbeda tolak ukur secara vertikal antara di Indonesia dengan di negara lain.
            b. Alur diskriminasi yang terjadi di Indonesia dengan pendekatan sosiologi dan antropologi yaitu masyarakat mayoritas mula-mula mempunyai  ikatan-ikatan utama seseorang dalam kehidupan sosial, dengan hal-hal yang dibawanya sejak lahir seperti suku bangsa, ras, klan, asal-usul kedaerahan, dan agama. Kemudian mereka mempunyai prasangka terhadap masyarakat minoritas. Dan akhirnya mereka membedakan perlakuan pada sesuatu hal yang sama karena masyarakat mayoritas membedakan masyarakat minoritas. Primordial -> Stereotip -> Diskriminasi.
            c. Menurut pendapat saya, kaum mayoritas otomatis menjadi pelaku diskriminasi sosial karena kaum mayoritasnya yang memperlakukan kaum minoritas berbeda. Walaupun sama-sama satu daerah tetapi berbeda agama, dan perbedaan agama tersebut sedikit (minoritas) maka kaum mayoritas akan memperlakukan hal yang berbeda padahal pada sesuatu hal sama. Contoh lain, di Indonesia orang Tionghoa (minoritas) jarang yang bekerja menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan pemimpin. Karena masyarakat mayoritas melakukan diskriminasi terhadap orang Tionghoa yang dominannya adalah kaum minoritas. Masyarakat mayoritas tidak ingin Indonesia dikuasai oleh masyarakat minoritas karena merasa ketakutan jikan dipimpin oleh kaumminoritas akan ditindas. Hal ini mebuktikan bahwa kaum mayoritas otomatis menjadi pelaku diskriminasi sosial.








Sumber            :
·         Handoyo, E., dkk.  2007. Studi Masyarakat Indonesia. Semarang Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.
·         Jhonson, Doyle Paul. 1988. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: PT Gramedia.
·         Nasikun. 1995. Sistem Sosial Indonesia, Rajawali Pers. Jakarta.
·         Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.




[1] Handoyo, E., dkk. 2007. Studi Masyarakat Indonesia. Semarang Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.

[2] Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
[3] Jhonson, Doyle Paul. 1988. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: PT Gramedia.

[4] Nasikun. 1995. Sistem Sosial Indonesia, Rajawali Pers. Jakarta.
[5]Handoyo, E., dkk. 2007. Studi Masyarakat Indonesia. Semarang Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.

[6] Nasikun. 1995. Sistem Sosial Indonesia, Rajawali Pers. Jakarta.

UTS Antropologi Terapan

Nama             : Sekar Arum Ngarasati
NIM                 : 3401413026
Rombel          : 1
UTS Antropologi Terapan

            Di Indonesia, baru mulai dikembangkan suatu ilmu antropologi khas Indonesia. Beruntunglah kita bahwa dalam hal menentukan dasar-dasar dari antropologi Indonesia belum terikat oleh suatu tradisi sehingga kita masih merdeka untuk memilih dan mengombinasikan unsur-unsur dari berbagai aliran antropologi yang paling cocok atau yang dapat diselaraskan dengan masalah kemasyarakatan di Indonesia. Konsepsi mengenai luas dari batas-batas lapangan penelitian antropologi dan seluruh integrasi luas dari metode-metode antropologi, dapat kita contoh dari Amerika. Penggunaan antropologi sebagai suat ilmu praktis untuk mengumpulkan data tentang kehidupan masyarakat dan kebudayaan dari berbagai suku bangsa yang berbeda-beda kemudian kita pamerkan sehingga dengan demikian saling timbul pengertian antara berbagai suku bangsa itu. [1]
            Sementara ini, antropologi yang berkembang di Indonesia, banyak yang menganggap antopologi ilmu yang dipandang sebelah mata. Artinya banyak yang beranggapan bahwa antropolog hanya meneliti orang-orang yang aneh dan eksotis yang tinggal di daerah-daerah yang jauh di mana mereka masih menjalankan kebiasaan-kebiasaan yang bagi masyarakat umum adalah asing. Sebenarnya antropologi tidak hanya meneliti orang-orang yang dianggap asing saja, tetapi antropologi juga mempelajari berbagai keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Persepsi orang awam mengenai ilmu antropologi itu mempelajari apa sebaiknya mulai sekarang segera dihilangkan. Dengan cara para antropolog memberikan sosialisasi kepada masyarakat awam misalnya melakukan penelitian kecil-kecilan bersama orang awam. Dengan salah satu cara tersebut persepsi mengenai ilmu antropologi yang hanya meneliti orang-orang yang dianggap aneh perlahan akan hilang.
                Antropologi memang tertarik pada masa lampau. Mereka ingin tahu tentang asal-mula manusia dan perkembangannya, dan mereka juga mempelajari masyarakat-masyarakat yang masih sederhana (sering disebut dengan primitif). Tetapi sekarang Antropologi juga mempelajari  tingkah laku manusia di tempat-tempat umum seperti di restaurant, rumah sakit dan di tempat-tempat bisnis modern lainnya. Mereka juga tertarik dengan bentuk-bentuk pemerintahan atau negara modern yang ada sekarang ini sama tertariknya ketika mereka mempelajari bentuk -bentuk pemerintahan yang sederhana yang terjadi pada masa lampau atau masih terjadi pada masyarakat-masyarakat di daerah yang terpencil.[2]
            Kebudayaan setiap masyarakat bersifat dinamis karena masyarakatnya memiliki sifat yang berbeda-beda dengan yang lainnya. Dan masyarakat satu tidak bisa disamakan dengan masyarakat lainnya. Dengan demikian kebudayaan yang ada dalam masyarakat dapat berkembang bahkan berubah seiring berkembangnya waktu. Tidak dapat dipungkiri jika banyak masyarakat yang terpengaruh kebudayaan luar dan hampir melupakan kebudayaannya sendiri. Misalnya remaja zaman sekarang yang menyukai artis-artis, boy band, girl band yang berasal dari Korea. Hal ini membuktikan bahwa mereka mempunyai sikap fanatik terhadap artis-artis Korea hingga semuanya disamakan atau mengikuti gaya artis Korea. Sedangkan apa yang terjadi pada budaya sendiri? Mereka hampir lupa dengan angklung, gamelan, dan lain-lain.
            Antropolog juga sebaiknya melakukan penelitian tentang peristiwa yang terjadi pada remaja yang ada di Indonesia. Dengan melakukan penelitian, setidaknya dapat mengurangi sikap  fanatik mereka kepada artis-artis Korea melalui pendekatan yang telah digunakan oleh para antropolog.
            Penelitian-penelitian yang menyangkut proses sosial yang terjadi bila manusia dalam suatu masyarakat dengan suatu kebudayaan tertentu dipengaruhi oleh unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing yang sedemikian berbeda sifatnya, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing tadi lambat-laun diakomodasikan dan diintegrasikan ke dalam kebudayaan itu sendiri tanpa kehilangan kepribadian dari kebudayaannya sendiri, disebut penelitian mengenai gejala akulturasi (acculturation).[3]
      Antropologi terapan merupakan cabang antropologi yang belum lama dikenal yang muncul untuk menjawab tantangan zaman. Antropologi terapan ini diadakan untuk langsung diaplikasikan sesuai situasi dan kondisi. Misalnya: Perusahaan Kelapa Sawit akan mendirikan pabrik di daerah transmigrasi yang banyak kelapa sawitnya harus melakukan penelitian. Penelitian yang dilakukan antropolog yang telah ditugaskan agar tidak salah mendirikan pabrik disitu. Dalam hal ini antropolog meneliti tentang minat masyarakat, kehidupan sosial, apa efek yang akan terjadi setelah ada pabrik disitu, apa yang akan terjadi jika ada masyarakat yang tidak setuju dengan adanya pabrik itu, dan sebagainya. Penelitian itu dilaksanakan oleh antropolog sebaik mungkin dalam hal ini cabang antropolog terapan. Kemudian hasil penelitiannya tersebut, diterapkan oleh pabrik Kelapa Sawitnya.
Antropologi terapan mengkaji  atau berhubungan dengan budaya-budaya dan kelompok sosial yang hidup pada masa kini (living cultures and contemporary peoples). Studi antropologi terapan adalah berkenaan dengan kebutuhan dan masalah nyata yang dihadapi kelompok sosial tersebut pada masa kini, seperti masalah konflik etnis, pengangguran, bencana alam, penyalahgunaan obat, HIV/AIDS, kemiskinan struktural, ethnic cleansing, dan sebagainya.
            Sedangkan antropologi murni merupakan ilmu yang benar-benar sekedar untuk diketahui, manfaatnya untuk ilmu itu sendiri tidak diterapkan pada masyarakat untuk kehidupan sehari-harinya.
Contoh : Melakukan penelitian mengenai banyaknya anak jalanan yang terjadi saat ini. Yang pembahasannya meliputi latar belakang terjadinya pengangguran, keadaan masyarakat akibat adanya anak jalannya, tenatang kurangnya pendidikan pada anak jalanan, serta upaya yang dilakukan untuk mengatasi anak jalanan pada masa kini.
            Antropologi yang akan dibangun di Indonesia tidak hanya antropologi murni saja tetapi harus ada antropologi terapan. Karena ilmu terapan dipelajari, diketahui, dan diterapkan (diaplikasikan)  ditempat yang bersangkutan sesuai denagn situasi, kajiannya untuk dimanfaatkan masyarakat. Sedangkan ilmu murni merupakan ilmu yang benar-benar sekedar untuk diketahui, manafaatnya untuk ilmu itu sendiri. Antropologi tidak usah dibawa kemana-mana, biarkan antropologi perkembang seiring berjalannya waktu. Berkembang sesuai kebudayaan dan permasalahan yang ada di masyarakat. Karena kebudayaan bersifat dinamis dan adaptif.
            Setelah keluar dari kuliah jurusan antropologi saya ingin lebih ke pendidikannya. Karena apa? karena cita-cita saya sejak kecil memang ingin menjadi seorang guru. Kalaupun kita mempunyai ilmu juga tidak harus kita terapkan dalam dunia pendidikan saja, tetapi saya akan menerapkannya dalam bidang yang lainnya yang membutuhkan kajian tentang antropologi. Seiring perkembangannya zaman, antropologi memang sangat dibutuhkan karena sekarang ini permasalahan di Indonesia sangat rumit sehingga perlu konsentrasi dan perhatian yang lebih dalam menangani berbagai permasalahan.



Daftar Pustaka:
·         Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka Cipta.
·         Koenjaraningrat. 1990. Sejarah Teori Antropologi. Jilid II. Jakarta: UI Press.
·         Artikel ilmiah Leonard Siregar (Dosen Tetap di Jurusan Antropologi Universitas Cenderawasih dan Ketua Laboratorium Antropologi Universitas Cenderawasih)
·

                                                                                                                      



[1] Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka Cipta.
[2] Artikel ilmiah Leonard Siregar (Dosen Tetap di Jurusan Antropologi Universitas Cenderawasih dan Ketua Laboratorium Antropologi Universitas Cenderawasih)
[3]  Untuk uraian lebih luas mengenai istilah itu, lihat karangan-karangan M.J. Herskovits (1938), R. Beals (1953), dan L. Broom, S.J. Siegel, E. Vogt, J.B. Watson (1954).
Koenjaraningrat. 1990. Sejarah Teori Antropologi. Jilid II. Jakarta: UI Press.

Field Notes KKL 1 Sosant Goes to Bromo

Nama               : Sekar Arum Ngarasati
NIM                : 3401413026
Rombel            : 1
Mata Kuliah    : Kajian Etnografi
                                 
Field Notes KKL 1 Sosant Goes to Bromo
            Senin, 31 maret 2014
Pukul 12 : 39 WIB berangkat dari samping C7 untuk pelaksanaan KKL 1 Sosant Goes to Bromo. Ada 3 bus dan ada 6 dosen yang mendampingi mahasiswa-mahasiswinya untuk KKL yang pertama. Perjalan melewati jalur pantura yang tidak macet seperti biasanya. Bus 3 pun ramai dengan mahasiswa yang bernyanyi dengan dosen pendampingnya. Pukul 17 : 30 WIB kami makan malam di rumah makan tepatnya di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kemudian sholat maghrib di jama dengan isya kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Bromo.
            1 April 2014
Pukul 02 : 30 WIB tepatnya kami semua tiba di terminal Sukapura dan memindahkan barang bawaan ke mobil pengangkutan barang dan melanjutkan perjalanan untuk menikmati sunrise menggunakan jeep. Sekitar 1 jam perjalanan melewati jalan yang berkelok-kelok dan merasakan naik turun setiap perjalanan. Sekitar pukul 04 : 00 WIB kami semua duduk menikmati udara yang benar-benar dingin dibandingkan dengan daerah sekitar Semarang. Kemudian 05 : 30 perjalanan menuju lautan pasir kawah gunung Bromo. Sesampainya disana kami naik sampai ke puncaknya memang tidak akan menyangka kalau bisa naik sampai setinggi itu. Sekitar pukul 08 : 00 WIB kami semua melanjutkan perjalanan menuju balai desa dan sarapan di depan balai desa. Setelah semua sarapan kemudian jalan menuju home stay masing-masing untuk keperluan mandi dan lain-lain. Pukul 10 : 00 WIB berkumpul di balai desa Ngadas karena diadakannya acara sarasehan bertemu dengan kepala adat, dukun pandita, dan kepala dusun.
Luas daerah Tengger kurang lebih 40 km dan utara ke selatan; 20-30 km dan timur ke barat, di atas ketinggian antara 1000m - 3675 m. Daerah Tengger teletak pada bagian dari empat kabupaten, yaitu : Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang. Tipe permukaan tanahnya bergunung-gunung dengan tebing-tebing yang curam. Kaldera Tengger adalah lautan pasir yang terluas, terletak pada ketinggian 2300 m, dengan panjang 5-10 km. Kawah Gunung Bromo, dengan ketinggian 2392 m, dan masih aktif . Di sebelah selatan menjulang puncak Gunung Semeru dengan ketinggian 3676 m.
Keadaan tanah daerah Tengger gembur seperti pasir, namun cukup subur. Tanaman keras yang tumbuh terutama adalah agathis laranthifolia, pinus merkusii, tectona, grandis leucaena, dan swietenia altingia excelsa, anthocepalus cadamba. Di kaki bukit paling atas ditumbuhi pohon cemara sampai di ketinggian 3000 dpl yaitu lereng Gunung Semeru. Tumbuhan utamanya adalah pohon-pohonan yang tinggi, pohon elfin dan pohon cemara, sedangkan tanam-tanaman pertanian terutama adalah kentang, kubis, wortel, jagung,bawang prei (plompong tengger) dsb.
Iklim daerah Tengger adalah hujan dan kemarau. Musim kemarau terjadi antara bulan Mei-Oktober. Curah hujan di Sukapura sekitar 1800 mm, sedangkan musim hujan terjadi pada bulan November-April, dengan persentase 20 hari/lebih hujan turun dalam satu bulan. Suhu udara berubah-ubah, tergantung ketinggian, antara 3 - 18 Celsius. Selama musim hujan kelembaban udara rata-rata 80%. Temperaturnya sepanjang hari terasa sejuk, dan pada malam hari terasa dingin. Pada musim kemarau temperatur malam hari terasa lebih dingin daripada musim hujan. Pada musim dingin biasanya diselimuti kabut tebal. Di daerah perkampungan, kabut mulai menebal pada sore hari. Di daerah sekitar puncak Gunung Bromo kabut mulai menebal pada pagi hari sebelum fajar menyingsing.
Di desa Ngadas yang mayoritas penduduknya 99 % menganut agama Hindu dan 1 % dari penduduknya beragama Islam. Penduduk desa Ngadas adalah sebanyak 682 jiwa dan pembagiannya sebanyak 335 adalah laki-laki dan 347 adalah perempuan. Pendidikan di desa Ngadas dengan rata-rata tamat pendidikan mereka hanya SD, S1 hanya 3 orang, dan SMA hanya 62 orang.
Masyarakat Suku Tengger tidak mengenal dualisme kepemimpinan ,walaupun ada yang namanya Dukun adat. Tetapi secara formal pemerintahan dan adat , Suku Tengger dipimpin oleh seorang Kepala Desa ( Petinggi ) yang sekaligus adalah Kepala Adat. Sedangkan Dukun diposisikan sebagai pemimpin Ritual / Upacara Adat.
Proses pemilihan seorang Petinggi ,dilakukan dengan cara pemilihan langsung oleh masyarakat , melalui proses pemilihan petinggi.
Sedang untuk pemilihan Dukun ,dilakukan melalui beberapa tahapan tahapan ( menyangkut diri pribadi calon Dukun ). Yang pada akhirnya akan diuji melalui ujian Mulunen ( ujian pengucapan mantra yang tidak boleh terputus ataupun lupa ) yang waktunya pada waktu Upacara Kasada bertempat di Poten Gunung Bromo.
Saat berada di desa Ngadas saya melakukan observasi dan yang menjadi narasumbernya adalah bapak Slamet yang berusia 36 tahun dan bekerja di ladang setiap harinya. Kebetulan kelompok 12 mendapatkan tema tentang kehidupan remaja suku Tengger. Kontrol sosial di Tengger terhadap remaja orang tuanya tidak begitu mengekang karena anaknya bisa diarahkan. Tingkat pendidikan remaja Tengger kebanyakan lulusan SD dan setelah lulus bekerja di ladang. Dan yang SMP dan SMA hanya sebagian kecil saja. Kebanyakan remaja Tengger tidak ada yang melanjutkan sekolah di luar kota. Dan tidak ada yang melakukan migrasi ke luar kota karena mereka beranggapan bahwa ketika bekerja di luar kota akan mendapatkan upah belum seberapa dibandingkan musim panen dan tidak ingin meninggalkan ladang orang tuanya. Sekarang tidak ada organisasi remaja di suku Tengger karena organisasi seperti dulu misalnya karang taruna mulai hilang. Kegiatan remaja suku Tengger setiap harinya pergi ke ladang membantu orang tuanya. Pacaran diperbolehkan oleh orang tua asal anak laki-lakinya yang selalu berkunjung ke rumah perempuannya dan pacaran masih dalam kewajaran. Remaja disana juga beberapa sudah menjadi pengguna internet tetapi jarang menggunakannya karena warnet jauh dari desa Ngadas. Akan tetapi, sebagian besar remaja disana sudah menggunakan handphone walaupun bukan smartphone seperti masyarakat pada umumnya.
Dan narasumber yang kedua adalah remaja yang bernama Meri kelas 2 SMA usia 17 tahun. Menurutnya, kontrol sosial di Tengger terhadap remaja orang tuanya tidak begitu mengekang karena anaknya bisa diarahkan. Tingkat pendidikan remaja Tengger kebanyakan lulusan SD dan setelah lulus bekerja di ladang. Dan yang SMP dan SMA hanya sebagian kecil saja. Kebanyakan remaja Tengger tidak ada yang melanjutkan sekolah di luar kota. Dan tidak ada yang melakukan migrasi ke luar kota karena mereka ingin menggarap ladang orang tuanya dari pada ditinggal ke luar kota. Bagi anak-anak yang masih sekolah, biasanya membantu orang tua di ladang sepulang sekolah. Sekarang tidak ada organisasi remaja di suku Tengger karena organisasi seperti dulu misalnya karang taruna mulai hilang. Kegiatan remaja suku Tengger setiap harinya pergi ke ladang membantu orang tuanya. Pacaran diperbolehkan oleh orang tua asal pacaran masih dalam kewajaran. Jarang sekali remaja disana nongkrong seperti di masyarakat kota pada umumnya. Mereka menongkrong pada saat ada hajatan di tetangganya saja. Remaja disana juga beberapa sudah menjadi pengguna internet tetapi jarang menggunakannya karena warnet jauh dari desa Ngadas. Akan tetapi, sebagian besar remaja disana sudah menggunakan handphone walaupun bukan smartphone seperti masyarakat pada umumnya.
Kebanyakan remaja Tengger tidak ada yang melanjutkan sekolah di luar kota. Dan tidak ada yang melakukan migrasi ke luar kota karena mereka beranggapan bahwa ketika bekerja di luar kota akan mendapatkan upah belum seberapa dibandingkan musim panen dan tidak ingin meninggalkan ladang orang tuanya. Sekarang tidak ada organisasi remaja di suku Tengger karena organisasi seperti dulu misalnya karang taruna mulai hilang. Kegiatan remaja suku Tengger setiap harinya pergi ke ladang membantu orang tuanya. Pacaran diperbolehkan oleh orang tua asal anak laki-lakinya yang selalu berkunjung ke rumah perempuannya dan pacaran masih dalam kewajaran. Remaja disana juga beberapa sudah menjadi pengguna internet tetapi jarang menggunakannya karena warnet jauh dari desa Ngadas. Akan tetapi, sebagian besar remaja disana sudah menggunakan handphone walaupun bukan smartphone seperti masyarakat pada umumnya. Menurut meri, pariwisata di Bromo mempunyai banyak sisi positif dibandingkan negatifnya karena desanya semakin ramai, ayahnya juga mendapatkan pekerjaan sebagai penerima tamu wisatawan, dan memudahkan tugas wawancara di sekolahnya.
Setelah observasi, kelompok 12 selesai pukul 16 : 30 WIB dan kembali ke home stay masing-masing. Pukul 18 : 30 makan malam dan  kembali ke balai desa untuk membahas hasil observasi tadi yang akan dipresentasikan. Kemudian semua berkumpul di balai desa untuk mempresentasikan hasil dari observasi masing-masing kelompok sampai pukul 23 : 30 WIB.
2 April 2014
Pukul 08 : 00 WIB makan pagi dan melanjutkan observasi lanjutan. Sepulang dari observasi lanjutan, berkumpul kembali di balai desa untuk acara pelepasan oleh kepala adat, kepala dusun, dan dukun pandita. Sekitar pukul 11 : 00 kami semua melanjutkan perjalanan menuju terminal Sukapura dan melanjutkan perjalanan menuju Malang.