Welcome

Sosant Unnes 2013

Sabtu, 27 Desember 2014

Peringatan Malam 1 Suro di Tugu Soeharto


Nama               : Sekar Arum Ngarasati
NIM                : 3401413026
Rombel            : 1
Tugas Bentang Sosial Budaya Masyarakat Jawa

Peringatan Malam 1 Suro di Tugu Soeharto

Tugu Suharto terletak di Kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan Gajah Mungkur, di tempat yang ditandai dengan monumen setinggi sekitar 8 meter ini merupakan pertemuan antara Kaligarang dan Kali Kreo. Di sini, pada pergantian tahun baru Jawa, 1 Sura, orang-orang melakukan ritual kungkum atau ngalap berkah, mereka percaya, dengan ritual kungkum di malam 1 Sura ini senantiasa mendapatkan berkah dan keselamatan ke depannya serta akan dikabulkan keinginannya. Kepercayaan ini dinilai sebagai nilai spiritual yang terdapat di Tugu Suharto, meski sekarang banyak pula yang iku ikutan melakukan prosesi ritual kungkum tanpa mengerti manfaat yang sesungguhnya. Mereka yang datang kemari tak hanya warga Semarang saja, tetapi juga warga luar kota.
Nama Tugu Suharto konon bermula saat Presiden RI ke-dua Soeharto yang kala itu berpangkat mayor bertugas di Semarang dalam perang melawan Belanda. Saat itu beliau lari ke arah selatan kota yang saat itu masih berupa hutan, beliau melompat ke sungai yang merupakan pertemuan dua arus sungai, dan kemudian menancapkan tongkat dan berendam di sana. Di titik inilah kemudian dibangun monumen yang bernama Tugu Suharto dan masyarakat yang ikut percaya pada aliran kejawen Soeharto ikut melanjutkan tradisi berendam atau kungkum tersebut.
Kami rombongan bersama teman-teman rombel 1 turun ke Tugu Suharto pada tanggal 24 Oktober 2014 pukul 20.00 WIB. Disana sudah mulai ramai dan parkiran motorpun sudah dipenuhi oleh pengunjung. Tradisi kungkum di sungai mulai pukul 23.00 WIB tetapi itu baru sedikit yang kungkum. Sedangkan pukul 00:00 WIB sudah mulai banyak yang turun untuk berendam. Ada anak kecil, remaja, dewasa, maupun orang tua yang kungkum di sungai. Mereka tidak hanya warga yang tinggal disekitar Tugu Suharto saja, justru pengunjungnya banyak yang dari luar kota seperti Magelang, Salatiga, Demak, Jepara, Purwodadi, dan lain-lain.
Menurut  salah satu narasumber yang saya temui yaitu Bapak Ahmad dan Ibu Ni, beliau tidak percaya dengan kepercayaan kungkum di sungai pada malam 1 Suro. Menurutnya, ada sebagian yang membawa bunga untuk kungkum, ada yang tidak membawa bunga. Kebanyakan pengunjungnya berasal dari luar kota seperti Magelang, Purwodadi, Salatiga, Demak, Jepara, dan lain-lain. Masyarakat yang mempunyai kepercayaan kungkum di sungai pada malam 1 Suro, ada yang telanjang tidak memakai apa-apa ada juga yang memakai baju nanti bajunya di buang di sungai tersebut. Baju tersebut dibuang dipercaya dapat membuang sial yang ada pada orang tersebut. Mereka mulai kungkum pada pukul 00:00 WIB sampai pukul 05:00 WIB. Setelah pukul 05:00 WIB sudah tidak ada yang kungkum di sungai lagi. Ada yang kungkum hanya beberapa menit saja, ada juga yang kungkum berjam-jam. Air sungai biasanya dalam tidak seperti ini karena musim kemarau panjang hujanpun hanya beberapa kali. Air sungai tersebut pertemuan antara sungai kaligarang dan sungai kreo. Yang kungkum tidak hanya orang tua saja, tetapi ada remaja, bahkan anak-anak.
Menurut orang-orang di sekitar tempat tersebut tempat keramat. Menurut cerita kejawen, dulu Pak Soeharto semedi kungkum di sungai ini dari sebelum menjadi presiden sampai menjadi seorang presiden. Masyarakat yang percaya dengan hal ini, kungkum di sungai tengah malam agar mendapatkan jodoh, dagangannya laris, dan untuk mencuci barang pusaka yang dimilikinya. Bahkan ada mahasiswa yang kungkum di sungai agar diberi kapandaian. Biasanya kungkum di tempat yang gelap-gelap karena ilham atau wangsitnya lebih cepat sampai. Kungkumnya tidak seperti mandi biasanya tetapi sambil wiridan dan meminta apa yang diinginkan. Di sungai tersebut ada larangan tidak boleh berhubungan suami istri di dalam air karena nanti akan mendapatkan karma. Misalkan ada 2 pedagang, yaitu pedagang batik dan pedagang sembako yang kungkum bareng untuk meminta agar dagangannya laris. Jika yang pedangan batik sukses dan yang pedagang sembako belum sukses, maka harus membantu pedagang sembako. Memberikan modal kepada pedagang sembako yang diajak mandi.
Tradisi kungkum pada malam 1 Suro di Tugu Suharto ini sifatnya individu. Jadi setiap pendatang melakukan tradisi kungkum sendiri-sendiri tidak ada kepala adat atau yang memimpin.
 Menurut anak-anak yang saya temui yaitu Lolo, Ambon dan Ketu mereka setiap malam 1 Suro kungkum di sungai agar awet muda. Dan baju yang mereka gunakan untuk kungkum tidak dibuang seperti yang lainnya.
Menurut narasumber yang saya temui yaitu Ari Wibowo setiap malam 1 Suro kungkum di sungai tidak ada tujuannya hanya ingin kungkum setahun sekali. Dan pakaiannya yang dipakai kungkum tidak dibuang di sungai.
Menurut saya, perayaan malam 1 Suro di Tugu Suharto tidak ada yang spesial. Karena tradisi kungkum yang dijalankan dilakukan oleh individu-individu tidak ada yang memimpin jalannya tradisi tersebut sehingga kurang menarik jika diamati.




0 komentar:

Posting Komentar