Nama : Sekar Arum Ngarasati
NIM : 3401413026
Rombel : 1
Tugas Bentang Sosial Budaya
Masyarakat Jawa
Peringatan Malam 1 Suro di Tugu Soeharto
Tugu
Suharto terletak di Kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan
Gajah Mungkur, di tempat yang ditandai dengan monumen
setinggi sekitar 8 meter ini merupakan pertemuan antara Kaligarang dan Kali
Kreo. Di sini, pada pergantian tahun baru Jawa, 1 Sura, orang-orang melakukan
ritual kungkum atau ngalap berkah, mereka percaya, dengan ritual kungkum di
malam 1 Sura ini senantiasa mendapatkan berkah dan keselamatan ke depannya
serta akan dikabulkan keinginannya. Kepercayaan ini dinilai sebagai nilai spiritual
yang terdapat di Tugu Suharto, meski sekarang banyak pula yang iku ikutan
melakukan prosesi ritual kungkum tanpa mengerti manfaat yang sesungguhnya.
Mereka yang datang kemari tak hanya warga Semarang saja, tetapi juga warga luar
kota.
Nama
Tugu Suharto konon bermula saat Presiden RI ke-dua Soeharto yang kala itu
berpangkat mayor bertugas di Semarang dalam perang melawan Belanda. Saat itu
beliau lari ke arah selatan kota yang saat itu masih berupa hutan, beliau
melompat ke sungai yang merupakan pertemuan dua arus sungai, dan kemudian
menancapkan tongkat dan berendam di sana. Di titik inilah kemudian dibangun
monumen yang bernama Tugu Suharto dan masyarakat yang ikut percaya pada aliran
kejawen Soeharto ikut melanjutkan tradisi berendam atau kungkum tersebut.
Kami
rombongan bersama teman-teman rombel 1 turun ke Tugu Suharto pada tanggal 24
Oktober 2014 pukul 20.00 WIB. Disana sudah mulai ramai dan parkiran motorpun
sudah dipenuhi oleh pengunjung. Tradisi kungkum di sungai mulai pukul 23.00 WIB
tetapi itu baru sedikit yang kungkum. Sedangkan pukul 00:00 WIB sudah mulai
banyak yang turun untuk berendam. Ada anak kecil, remaja, dewasa, maupun orang
tua yang kungkum di sungai. Mereka tidak hanya warga yang tinggal disekitar
Tugu Suharto saja, justru pengunjungnya banyak yang dari luar kota seperti
Magelang, Salatiga, Demak, Jepara, Purwodadi, dan lain-lain.
Menurut
salah satu narasumber yang saya temui
yaitu Bapak Ahmad dan Ibu Ni, beliau tidak percaya dengan kepercayaan kungkum
di sungai pada malam 1 Suro. Menurutnya, ada sebagian yang membawa bunga untuk
kungkum, ada yang tidak membawa bunga. Kebanyakan pengunjungnya berasal dari
luar kota seperti Magelang, Purwodadi, Salatiga, Demak, Jepara, dan lain-lain.
Masyarakat yang mempunyai kepercayaan kungkum di sungai pada malam 1 Suro, ada
yang telanjang tidak memakai apa-apa ada juga yang memakai baju nanti bajunya
di buang di sungai tersebut. Baju tersebut dibuang dipercaya dapat membuang
sial yang ada pada orang tersebut. Mereka mulai kungkum pada pukul 00:00 WIB
sampai pukul 05:00 WIB. Setelah pukul 05:00 WIB sudah tidak ada yang kungkum di
sungai lagi. Ada yang kungkum hanya beberapa menit saja, ada juga yang kungkum
berjam-jam. Air sungai biasanya dalam tidak seperti ini karena musim kemarau
panjang hujanpun hanya beberapa kali. Air sungai tersebut pertemuan antara
sungai kaligarang dan sungai kreo. Yang kungkum tidak hanya orang tua saja, tetapi
ada remaja, bahkan anak-anak.
Menurut
orang-orang di sekitar tempat tersebut tempat keramat. Menurut cerita kejawen,
dulu Pak Soeharto semedi kungkum di sungai ini dari sebelum menjadi presiden
sampai menjadi seorang presiden. Masyarakat yang percaya dengan hal ini,
kungkum di sungai tengah malam agar mendapatkan jodoh, dagangannya laris, dan
untuk mencuci barang pusaka yang dimilikinya. Bahkan ada mahasiswa yang kungkum
di sungai agar diberi kapandaian. Biasanya kungkum di tempat yang gelap-gelap
karena ilham atau wangsitnya lebih cepat sampai. Kungkumnya tidak seperti mandi
biasanya tetapi sambil wiridan dan meminta apa yang diinginkan. Di sungai
tersebut ada larangan tidak boleh berhubungan suami istri di dalam air karena
nanti akan mendapatkan karma. Misalkan ada 2 pedagang, yaitu pedagang batik dan
pedagang sembako yang kungkum bareng untuk meminta agar dagangannya laris. Jika
yang pedangan batik sukses dan yang pedagang sembako belum sukses, maka harus
membantu pedagang sembako. Memberikan modal kepada pedagang sembako yang diajak
mandi.
Tradisi
kungkum pada malam 1 Suro di Tugu Suharto ini sifatnya individu. Jadi setiap
pendatang melakukan tradisi kungkum sendiri-sendiri tidak ada kepala adat atau
yang memimpin.
Menurut anak-anak yang saya temui yaitu Lolo,
Ambon dan Ketu mereka setiap malam 1 Suro kungkum di sungai agar awet muda. Dan
baju yang mereka gunakan untuk kungkum tidak dibuang seperti yang lainnya.
Menurut
narasumber yang saya temui yaitu Ari Wibowo setiap malam 1 Suro kungkum di
sungai tidak ada tujuannya hanya ingin kungkum setahun sekali. Dan pakaiannya
yang dipakai kungkum tidak dibuang di sungai.
Menurut
saya, perayaan malam 1 Suro di Tugu Suharto tidak ada yang spesial. Karena
tradisi kungkum yang dijalankan dilakukan oleh individu-individu tidak ada yang
memimpin jalannya tradisi tersebut sehingga kurang menarik jika diamati.







0 komentar:
Posting Komentar