Welcome

Sosant Unnes 2013

Rabu, 12 November 2014

Field Notes KKL 1 Sosant Goes to Bromo

Nama               : Sekar Arum Ngarasati
NIM                : 3401413026
Rombel            : 1
Mata Kuliah    : Kajian Etnografi
                                 
Field Notes KKL 1 Sosant Goes to Bromo
            Senin, 31 maret 2014
Pukul 12 : 39 WIB berangkat dari samping C7 untuk pelaksanaan KKL 1 Sosant Goes to Bromo. Ada 3 bus dan ada 6 dosen yang mendampingi mahasiswa-mahasiswinya untuk KKL yang pertama. Perjalan melewati jalur pantura yang tidak macet seperti biasanya. Bus 3 pun ramai dengan mahasiswa yang bernyanyi dengan dosen pendampingnya. Pukul 17 : 30 WIB kami makan malam di rumah makan tepatnya di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kemudian sholat maghrib di jama dengan isya kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Bromo.
            1 April 2014
Pukul 02 : 30 WIB tepatnya kami semua tiba di terminal Sukapura dan memindahkan barang bawaan ke mobil pengangkutan barang dan melanjutkan perjalanan untuk menikmati sunrise menggunakan jeep. Sekitar 1 jam perjalanan melewati jalan yang berkelok-kelok dan merasakan naik turun setiap perjalanan. Sekitar pukul 04 : 00 WIB kami semua duduk menikmati udara yang benar-benar dingin dibandingkan dengan daerah sekitar Semarang. Kemudian 05 : 30 perjalanan menuju lautan pasir kawah gunung Bromo. Sesampainya disana kami naik sampai ke puncaknya memang tidak akan menyangka kalau bisa naik sampai setinggi itu. Sekitar pukul 08 : 00 WIB kami semua melanjutkan perjalanan menuju balai desa dan sarapan di depan balai desa. Setelah semua sarapan kemudian jalan menuju home stay masing-masing untuk keperluan mandi dan lain-lain. Pukul 10 : 00 WIB berkumpul di balai desa Ngadas karena diadakannya acara sarasehan bertemu dengan kepala adat, dukun pandita, dan kepala dusun.
Luas daerah Tengger kurang lebih 40 km dan utara ke selatan; 20-30 km dan timur ke barat, di atas ketinggian antara 1000m - 3675 m. Daerah Tengger teletak pada bagian dari empat kabupaten, yaitu : Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang. Tipe permukaan tanahnya bergunung-gunung dengan tebing-tebing yang curam. Kaldera Tengger adalah lautan pasir yang terluas, terletak pada ketinggian 2300 m, dengan panjang 5-10 km. Kawah Gunung Bromo, dengan ketinggian 2392 m, dan masih aktif . Di sebelah selatan menjulang puncak Gunung Semeru dengan ketinggian 3676 m.
Keadaan tanah daerah Tengger gembur seperti pasir, namun cukup subur. Tanaman keras yang tumbuh terutama adalah agathis laranthifolia, pinus merkusii, tectona, grandis leucaena, dan swietenia altingia excelsa, anthocepalus cadamba. Di kaki bukit paling atas ditumbuhi pohon cemara sampai di ketinggian 3000 dpl yaitu lereng Gunung Semeru. Tumbuhan utamanya adalah pohon-pohonan yang tinggi, pohon elfin dan pohon cemara, sedangkan tanam-tanaman pertanian terutama adalah kentang, kubis, wortel, jagung,bawang prei (plompong tengger) dsb.
Iklim daerah Tengger adalah hujan dan kemarau. Musim kemarau terjadi antara bulan Mei-Oktober. Curah hujan di Sukapura sekitar 1800 mm, sedangkan musim hujan terjadi pada bulan November-April, dengan persentase 20 hari/lebih hujan turun dalam satu bulan. Suhu udara berubah-ubah, tergantung ketinggian, antara 3 - 18 Celsius. Selama musim hujan kelembaban udara rata-rata 80%. Temperaturnya sepanjang hari terasa sejuk, dan pada malam hari terasa dingin. Pada musim kemarau temperatur malam hari terasa lebih dingin daripada musim hujan. Pada musim dingin biasanya diselimuti kabut tebal. Di daerah perkampungan, kabut mulai menebal pada sore hari. Di daerah sekitar puncak Gunung Bromo kabut mulai menebal pada pagi hari sebelum fajar menyingsing.
Di desa Ngadas yang mayoritas penduduknya 99 % menganut agama Hindu dan 1 % dari penduduknya beragama Islam. Penduduk desa Ngadas adalah sebanyak 682 jiwa dan pembagiannya sebanyak 335 adalah laki-laki dan 347 adalah perempuan. Pendidikan di desa Ngadas dengan rata-rata tamat pendidikan mereka hanya SD, S1 hanya 3 orang, dan SMA hanya 62 orang.
Masyarakat Suku Tengger tidak mengenal dualisme kepemimpinan ,walaupun ada yang namanya Dukun adat. Tetapi secara formal pemerintahan dan adat , Suku Tengger dipimpin oleh seorang Kepala Desa ( Petinggi ) yang sekaligus adalah Kepala Adat. Sedangkan Dukun diposisikan sebagai pemimpin Ritual / Upacara Adat.
Proses pemilihan seorang Petinggi ,dilakukan dengan cara pemilihan langsung oleh masyarakat , melalui proses pemilihan petinggi.
Sedang untuk pemilihan Dukun ,dilakukan melalui beberapa tahapan tahapan ( menyangkut diri pribadi calon Dukun ). Yang pada akhirnya akan diuji melalui ujian Mulunen ( ujian pengucapan mantra yang tidak boleh terputus ataupun lupa ) yang waktunya pada waktu Upacara Kasada bertempat di Poten Gunung Bromo.
Saat berada di desa Ngadas saya melakukan observasi dan yang menjadi narasumbernya adalah bapak Slamet yang berusia 36 tahun dan bekerja di ladang setiap harinya. Kebetulan kelompok 12 mendapatkan tema tentang kehidupan remaja suku Tengger. Kontrol sosial di Tengger terhadap remaja orang tuanya tidak begitu mengekang karena anaknya bisa diarahkan. Tingkat pendidikan remaja Tengger kebanyakan lulusan SD dan setelah lulus bekerja di ladang. Dan yang SMP dan SMA hanya sebagian kecil saja. Kebanyakan remaja Tengger tidak ada yang melanjutkan sekolah di luar kota. Dan tidak ada yang melakukan migrasi ke luar kota karena mereka beranggapan bahwa ketika bekerja di luar kota akan mendapatkan upah belum seberapa dibandingkan musim panen dan tidak ingin meninggalkan ladang orang tuanya. Sekarang tidak ada organisasi remaja di suku Tengger karena organisasi seperti dulu misalnya karang taruna mulai hilang. Kegiatan remaja suku Tengger setiap harinya pergi ke ladang membantu orang tuanya. Pacaran diperbolehkan oleh orang tua asal anak laki-lakinya yang selalu berkunjung ke rumah perempuannya dan pacaran masih dalam kewajaran. Remaja disana juga beberapa sudah menjadi pengguna internet tetapi jarang menggunakannya karena warnet jauh dari desa Ngadas. Akan tetapi, sebagian besar remaja disana sudah menggunakan handphone walaupun bukan smartphone seperti masyarakat pada umumnya.
Dan narasumber yang kedua adalah remaja yang bernama Meri kelas 2 SMA usia 17 tahun. Menurutnya, kontrol sosial di Tengger terhadap remaja orang tuanya tidak begitu mengekang karena anaknya bisa diarahkan. Tingkat pendidikan remaja Tengger kebanyakan lulusan SD dan setelah lulus bekerja di ladang. Dan yang SMP dan SMA hanya sebagian kecil saja. Kebanyakan remaja Tengger tidak ada yang melanjutkan sekolah di luar kota. Dan tidak ada yang melakukan migrasi ke luar kota karena mereka ingin menggarap ladang orang tuanya dari pada ditinggal ke luar kota. Bagi anak-anak yang masih sekolah, biasanya membantu orang tua di ladang sepulang sekolah. Sekarang tidak ada organisasi remaja di suku Tengger karena organisasi seperti dulu misalnya karang taruna mulai hilang. Kegiatan remaja suku Tengger setiap harinya pergi ke ladang membantu orang tuanya. Pacaran diperbolehkan oleh orang tua asal pacaran masih dalam kewajaran. Jarang sekali remaja disana nongkrong seperti di masyarakat kota pada umumnya. Mereka menongkrong pada saat ada hajatan di tetangganya saja. Remaja disana juga beberapa sudah menjadi pengguna internet tetapi jarang menggunakannya karena warnet jauh dari desa Ngadas. Akan tetapi, sebagian besar remaja disana sudah menggunakan handphone walaupun bukan smartphone seperti masyarakat pada umumnya.
Kebanyakan remaja Tengger tidak ada yang melanjutkan sekolah di luar kota. Dan tidak ada yang melakukan migrasi ke luar kota karena mereka beranggapan bahwa ketika bekerja di luar kota akan mendapatkan upah belum seberapa dibandingkan musim panen dan tidak ingin meninggalkan ladang orang tuanya. Sekarang tidak ada organisasi remaja di suku Tengger karena organisasi seperti dulu misalnya karang taruna mulai hilang. Kegiatan remaja suku Tengger setiap harinya pergi ke ladang membantu orang tuanya. Pacaran diperbolehkan oleh orang tua asal anak laki-lakinya yang selalu berkunjung ke rumah perempuannya dan pacaran masih dalam kewajaran. Remaja disana juga beberapa sudah menjadi pengguna internet tetapi jarang menggunakannya karena warnet jauh dari desa Ngadas. Akan tetapi, sebagian besar remaja disana sudah menggunakan handphone walaupun bukan smartphone seperti masyarakat pada umumnya. Menurut meri, pariwisata di Bromo mempunyai banyak sisi positif dibandingkan negatifnya karena desanya semakin ramai, ayahnya juga mendapatkan pekerjaan sebagai penerima tamu wisatawan, dan memudahkan tugas wawancara di sekolahnya.
Setelah observasi, kelompok 12 selesai pukul 16 : 30 WIB dan kembali ke home stay masing-masing. Pukul 18 : 30 makan malam dan  kembali ke balai desa untuk membahas hasil observasi tadi yang akan dipresentasikan. Kemudian semua berkumpul di balai desa untuk mempresentasikan hasil dari observasi masing-masing kelompok sampai pukul 23 : 30 WIB.
2 April 2014
Pukul 08 : 00 WIB makan pagi dan melanjutkan observasi lanjutan. Sepulang dari observasi lanjutan, berkumpul kembali di balai desa untuk acara pelepasan oleh kepala adat, kepala dusun, dan dukun pandita. Sekitar pukul 11 : 00 kami semua melanjutkan perjalanan menuju terminal Sukapura dan melanjutkan perjalanan menuju Malang.

0 komentar:

Posting Komentar