1.
Etnografi merupakan cabang antropologi, merupakan pelukisan dan analisis tentang kebudayaan suatu masyarakat atau suku bangsa. Etnografi biasanya terdiri atas uraian terperinci mengenai aspek cara berperilaku dan cara berpikir yang sudah membaku pada orang yang dipelajari atau sekumpulan orang yang diteliti, berupa tulisan, foto, gambar atau film yang berisi laporan atau deskripsi tersebut. Yang dipelajari oleh ahli etnografi adalah unsur kebudayaan suatu masyarakat seperti bahasa, mata pencaharian, sistem teknologi, organisasi sosial, kesenian, sistem pengetahuan, dan religi.
Etnografi yang akarnya antropologi pada dasarnya adalah kegiatan penelitian untuk memahami cara orang-orang berinteraksi dan bekerjasama melalui fenomena teramati kehidupan sehari-hari (Symon dan Cassell,1998).
Etnografi adalah kajian tentang kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat atau etnik, misalnya tentang adat-istiadat, kebiasaan, hukum, seni, religi, bahasa. Bidang kajian yang sangat berdekatan dengan etnografi adalah etnologi, yaitu kajian perbandingan tentang kebudayaan dari berbagai masyarakat atau kelompok (Richards dkk.,1985).
Etnografi merupakan ciri khas antropologi artinya etnografi merupakan metode penelitian lapangan asli dari antropologi (Marzali 2005:42).
Etnografi klasik adalah metode etnografi digunakan untuk meneliti masyarakat sederhana. Data berasal dari catatan perjalanan, belum ada penelitian lapangan secara intensif. Akan tetapi metode etnografi ini telah mengalami evolusi besar, di mana dewasa ini metode etnografi bisa juga diterapkan untuk meneliti masyarakat kompleks. Dalam meneliti masyarakat kompleks, peneliti akan memulainya dengan mengambil satu atau lebih culture scene sebagai fokus kajian.
Menurut James P. Spradley dalam bukunya Metode Etnografi (1997:xix), etnografi modern yang dipelopori oleh Radcliffe-Brown dan Malinowski, yang memusatkan perhatian pada organisasi internal suatu masyarakat dan membanding-bandingkan sistem sosial, dalam rangka untuk mendapatkan kaidah-kaidah umum tentang masyarakat. Data yang dikumpulkan melalui penelitian lapangan dengan metode partisipasi observasi.
Etnografi baru menggambarkan masyarakat sebagaimana pengetahuan masyarakat itu sendiri. Menurut James P. Spradley dalam bukunya Metode Etnografi (1997:xix), etnografi baru justru berusaha menemukan keunikan dari suatu masyarakat, yakni persepsi dan organisasi pikiran dari masyarakat atas fenomena material yang ada di sekelilingnya. Oleh karenanya, objek kajian antropologi tidak lagi berkenaan dengan fenomena material, melainkan dengan cara fenomena tersebut diorganisasikan di dalam pikiran (mind) manusia.
2.
Kebenaran yang ditampilkan oleh etnografi bisa dikatakan tidak obyektif sepenuhnya. Ia (etnografi) benar hanya apabila dipahami berdasarkan motivasi dan pembatas-pembatas yang turut menentukan pendeskripsian dari sebuah tulisan atau karya etnografi (G.R. Lono Lastoro Simatupang, 1997:45).
Dalam penelitian tentunya seorang peneliti melakukan proses wawancara dengan informan. Pada saat wawancara, informan diajak untuk flash back dan merekam ulang kisah masa lalu yang pernah dialami atau disaksikan oleh informan. Sebagai seorang peneliti, kami mendapat jawaban hasil sebuah reinterpretasi yang berasal dari informan. Seorang peneliti tentunya menginginkan jawaban dari informan yang faktual. Tetapi terkadang seorang informan memberikan jawaban tidak sesuai dengan faktanya bahkan ada yang menganggap semuanya baik tidak ada hal buruknya sedikitpun. Ada pula informan yang benar-benar jujur sesuai dengan fakta yang dialami atau disaksikan. Jadi data penelitian yang diperoleh peneliti, bukan seluruh gambaran kehidupan masyarakat (bersifat partial), penelitian yang merekam sebagian saja kehidupan masyarakat selama peneliti tinggal bersama masyarakat secara langsung. Tidak mungkin seorang peneliti melakukan penelitan langsung pada seluruh aspek kehidupan masyarakat. Jika peneliti melakukan penelitian yang sangat mendalam, mengetahui seluruh aspek kehidupan masyarakatnya bisa jadi informan jenuh ditanyakan atau “dikorek-korek” informasinya secara mendalam. Terkadang ada seseorang yang tidak ingin diwawancarai secara mendalam. Sebab itulah etnografi bersifat Partial Truths yang bisa dilakukan hanyalah merekam sebagian sisi kehidupan masyarakat. Jadi, jika etnografi bersifat Partial Truths tidak ada salahnya karena kebenarannya belum begitu faktual. Bisa jadi informan tidak menceritakan hal buruknya justru menceritakan hal baiknya saja, karena hasil penelitian yang kita lihat, kita ketahui selama hidup bersama informan itu belum benar-benar faktual sesuai dengan realitanya.
3.
Pokok kajian dalam etnografi visual menurut Power Point yang telah dijelaskan oleh Pak Gunawan adalah sebagai berikut :
1. Menggunakan sistem visual dan budaya visual sebagai fokus kajiannya (produk yang dihasilkan masyarakat).
2. Menggunakan bahan-bahan visual dalam penelitian antropologi, (bukan produk visual yang dilihat tetapi rekaman peristiwa yang terjadi disana pada saat penelitian).
Materi visual diperlakukan sebagai representasi suatu komunitas yang diteliti untuk didokumentasikan ataupun dieksplorasi lebih lanjut. Materi visual tersebut diperoleh dari penggunaan alat perekam seperti foto dan video.
3. Menempatkan hasil rekaman kamera baik berupa foto maupun video sebagai representasi komunitas atau persoalan yang diteliti.
4. Menempatkan hasil rekaman kamera merupakan data yang kemudian dieksplorasi dan dianalisa untuk mendapatkan konteks dan pemahaman tertentu.
Melalui kajiannya terhadap fotografi, Barthes (1981) menjelaskan bahwa dalam sebuah foto terkandung dua tingkat pemaknaan yaitu tingkat denotatif dan konotatif. Pada tingkat denotatif, citra visual sebuah foto dapat menunjukkan hubungan analogis dengan kenyataan. Dengan mudah kita dapat menunjuk dengan jari untuk mendiskripsikan hubungan citra visual dengan kenyataan. Sedangkan pada tingkat kedua berupa pemaknaan konotatif. Pada tingkat konotatif pemaknaan hadir melalui proses penafsiran yang melibatkan konteks kultural, historis, ideologis, juga politis. Oleh karena itu maknanya akan berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Pandangan yang sama, gambar yang sama, obyek yang sama, tidak menjamin akan memiliki makna yang sama. Subyektifitas fotografer telah menghasilkan suatu gambar yang melahirkan makna yang lain bagi setiap orang yang memandangnya bahkan fotografernya (Ajidarma, 2002).
Analisis foto dilakukan dengan cara yang secara teoritik mengacu pada pemikiran Barthes yang sudah disinggung pada bagian sebelumnya. Foto merupakan teks, tanda, yang harus ditafsirkan. Foto-foto tersebut ditatap secara aktif. Tidak sekedar dilihat kemudian dinilai baik dan buruknya (dengan ukuran tertentu) tetapi dilihat dengan lebih rinci, jika ada bagian detail yang belum diketahui maka harus dicari jawabannya. Sehingga tidak cukup hanya dengan sekali melihat tetapi harus memilah dan membongkar apa saja yang tampak dan tidak tampak. Karena dibalik apa yang terlihat dari sebuah foto perlu disadari bahwa secara bersamaan ada yang tidak terlihat dan yang tidak terlihat itulah yang membuat sesuatu menjadi terlihat (Marelau-Ponty, 1968).
Daftar referensi:
Buku tulis catatan kajian etnografi
Buku tulis catatan pengantar antropologi
http://fimam72.blogspot.com/2014/06/etnografi-partial-truths-dan-fotografi.html
Koentjaraningrat, 2009. Pengantar Ilmu Antropologi, Rineka Cipta, Yogyakarta.
Sradley, James P.1997. Metode Etnografi, PT. Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta.







0 komentar:
Posting Komentar