Welcome

Sosant Unnes 2013

Sabtu, 27 Desember 2014

UTS Teori Antropologi







Teori Evolusi Religi E.B. Tylor dan Aplikasi Teori berdasarkan KKL 1 Sosant Goes to Bromo
Disusun guna memenuhi tugas UTS Semester 2 mata kuliah Teori Antropologi
Dosen Pengampu : Asma Luthfi


Di susun oleh:
Nama               : Sekar Arum Ngarasati
NIM                : 3401413026
Rombel            : 1

JURUSAN SOSIOLOGI ANTROPOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013
BAB I
BAB I
PENDAHULUAN
            Indonesia adalah masyarakat yang majemuk. Indonesia memiliki berbagai berbedaan, tetapi dalam perbedaan itu tidak membuat Indonesia menjadi terpecah belah. Indonesia memiliki berbagai agama, tetapi masyarakatnya menjunjung tinggi toleransi satu sama lain agar tidak terjadi kesenjangan antar agama.
          Setiap manusia memiliki agama atau religi masing-masing, hanya orang tertentu yang tidak percaya kepada Tuhan atau yang biasa disebut dengan atheis. Dalam hal ini, masyarakat di desa Ngadas menganut agama Hindu 99 % dan Islam 1 %. Agama yang ada di Indonesia berkembang membutuhkan waktu yang agak lama karena dalam hal ini termasuk teori evolusi religi. Teori evolusi religi kali ini menurut tokoh Sir Edward Burnett Tylor.
Sir Edward Burnett Tylor (2 Oktober 1832 - 2 Januari 1917), Antropolog dari Inggris yang berdiri mewakilievolusionisme budaya yang ia tampakkan dalam karya-karyanya Primitive Culture danAnthropology, ia mendefinisikan konteks penelitian ilmiah antropologi, berdasarkan teori evolusi Charles Lyell. Dia percaya bahwa ada sifat universal dalam setiap kebudayaan terutama dalam masyarakat dan agama. E B Tylor dianggap oleh banyak orang sebagai tokoh pendiri ilmu antropologi sosial, dan karya ilmiah itu dilihatkontribusinya pada disiplin Antropologi yang mulai terbentuk di abad ke-19. Dia percaya penelitian yang menjadi sejarah dan prasejarah manusia dapat digunakan sebagai dasar bagi perubahan agama masyarakat. Awal karirnya dimulai pada saat perjalanannya ke Meksiko pada tahun1856 meskipun hanya sebagai asisten peneliti dan dianggap mempunyai keahlian dibidang arkeologi tetapi hasil dari ekspedisi tersebut ia sempatkan untuk menulis sebuah karyanya yang pertama berjudul Anahuac, or Meksiko and Mexicans, Ancient and Modern (1861).
Dia memperkenalkan kembali istilah animisme (iman di dalam jiwa individu atau anima segala sesuatu, dan manifestasi alam) yang umum digunakan dalam masyarakat primitive. Pendapatnya yang menganggap animisme dalam evolusi religi sebagai tahap pertama pembangunan agama. Seperti yang juga dtuliskan Koentjraningrat tentang tahapan sebuah evolusi mengenai religi pada tingkat tertua  dalam evolusi, manusia percaya bahwa mahluk-mahluk halus (sifat abstrak dari manusia yang menimbulkan keyakinan bahwa jiwa dapat hidup langsung, lepas dari tubuh jasmaninya).
Tentang paham dari Tylor tergambarkan dalam karyanya yang paling terkenal, yakni bukunya yang terbit 2 jilid, Primitve Culture. Dalam edisi pertama, The Origins of Culture, Ia memberikan pemahaman mengenai berbagai aspek etnografi termasuk evolusi sosial, linguistik, dan mitos. Dalam edisi kedua, berjudul Religion in Primitive Culture, berkaitan dengan penafsirannya tentang animisme. Pada halaman pertamaPrimitve Culture, Tylor memberikan definisi yang paling luas Kebudayaan: "Budaya, atau peradaban, yang diambil dalam arti luas, etnografi, adalah bahwa keseluruhan kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan , seni, moral, hukum, adat, dan setiap kemampuan lain dan kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Tidak seperti pendahulunya dan sezaman, Tylor menegaskan bahwa pikiran manusia dan kemampuan manusia pada dasarnya bersifat sama dan universal, terlepas dari tahap masyarakat tertentu dalam evolusi sosial. Dalam pengertian ini diasumsikan bahwa kemampuan intelejensi masyarakat berburu tak jauh berbeda dengan masyarakat industri.
Bagi E Taylor, seorang ahli antropolog semestinya mempelajari sebanyak mungkin kebudayaan yang sangat beragam di muka bumi, mengumpulkan semuaunsur-unsur kebudayaan yang kemudian mengklasifikasikannya berdasarkan persamaan unsur tersebut agar tampat tahapan-tahapan evolusi kebudayaan.






                 
BAB II
PEMBAHASAN
A.                Deskripsi lokasi
Ngadas adalah sebuah desa yang berada paling ujung timur Kabupaten Malang. Desa Ngadas merupakan satu-satunya desa yang masih mempertahankan adat Tengger di Kabupaten Malang. Masyarakatnya sembilan puluh sembilan persen adalah warga suku Tengger, merupakan sisa-sisa atau keturunan masyarakat Kerajaan Majapahit yang melarikan diri sejak berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di tanah Jawa. Lokasinya di ujung timur kabupaten yang terpisah dengan desa lain membuat desa ini sangat orisinil dalam manjalankan ada dan budaya Tengger. Baik adat desa maupun spiritualitas.
Desa Ngadas yang terletak di lereng Gunung Semeru dan Gunung Bromo tidak ubahnya seperti desa lainnya di wilayah kabupaten. Yang membedakan adalah kebudayaan Suku Tengger yang tetap terjaga kuat di desa ini. Padahal masyarakatnya sangat plural dari sisi keyakinan. Sebab, di desa ini sekitar 1.820 warganya menganut agama yang beragam. Ada yang beragama Islam, Buddha, dan Hindu.
Keelokan Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, bukan saja pada panorama alamnya, tapi juga keanegaragaman adat istiadat dan budaya di dalamnya. Desa yang dihuni Suku Tengger itu mampu mempertahankan budaya di tengah derasnya arus globalisasi.
Luas daerah Tengger kurang lebih 40 km dan utara ke selatan; 20-30 km dan timur ke barat, di atas ketinggian antara 1000m - 3675 m. Daerah Tengger teletak pada bagian dari empat kabupaten, yaitu : Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang. Tipe permukaan tanahnya bergunung-gunung dengan tebing-tebing yang curam. Kaldera Tengger adalah lautan pasir yang terluas, terletak pada ketinggian 2300 m, dengan panjang 5-10 km. Kawah Gunung Bromo, dengan ketinggian 2392 m, dan masih aktif . Di sebelah selatan menjulang puncak Gunung Semeru dengan ketinggian 3676 m.
Keadaan tanah daerah Tengger gembur seperti pasir, namun cukup subur. Tanaman keras yang tumbuh terutama adalah agathis laranthifolia, pinus merkusii, tectona, grandis leucaena, dan swietenia altingia excelsa, anthocepalus cadamba. Di kaki bukit paling atas ditumbuhi pohon cemara sampai di ketinggian 3000 dpl yaitu lereng Gunung Semeru. Tumbuhan utamanya adalah pohon-pohonan yang tinggi, pohon elfin dan pohon cemara, sedangkan tanam-tanaman pertanian terutama adalah kentang, kubis, wortel, jagung,bawang prei (plompong tengger) dsb.
Iklim daerah Tengger adalah hujan dan kemarau. Musim kemarau terjadi antara bulan Mei-Oktober. Curah hujan di Sukapura sekitar 1800 mm, sedangkan musim hujan terjadi pada bulan November-April, dengan persentase 20 hari/lebih hujan turun dalam satu bulan. Suhu udara berubah-ubah, tergantung ketinggian, antara 3 - 18 Celsius. Selama musim hujan kelembaban udara rata-rata 80%. Temperaturnya sepanjang hari terasa sejuk, dan pada malam hari terasa dingin. Pada musim kemarau temperatur malam hari terasa lebih dingin daripada musim hujan. Pada musim dingin biasanya diselimuti kabut tebal. Di daerah perkampungan, kabut mulai menebal pada sore hari. Di daerah sekitar puncak Gunung Bromo kabut mulai menebal pada pagi hari sebelum fajar menyingsing.
Di desa Ngadas yang mayoritas penduduknya 99 % menganut agama Hindu dan 1 % dari penduduknya beragama Islam. Penduduk desa Ngadas adalah sebanyak 682 jiwa dan pembagiannya sebanyak 335 adalah laki-laki dan 347 adalah perempuan. Pendidikan di desa Ngadas dengan rata-rata tamat pendidikan mereka hanya SD, S1 hanya 3 orang, dan SMA hanya 62 orang.
Masyarakat Suku Tengger tidak mengenal dualisme kepemimpinan ,walaupun ada yang namanya Dukun adat. Tetapi secara formal pemerintahan dan adat , Suku Tengger dipimpin oleh seorang Kepala Desa ( Petinggi ) yang sekaligus adalah Kepala Adat. Sedangkan Dukun diposisikan sebagai pemimpin Ritual / Upacara Adat.
B.                 Landasan Teori
Edward B Taylor (1832-1917) adalah orang inggris dan seorang arkeolog. Dengan karangan pertamanya yang menakjubkan mengenai ekspedisinya ke meksiko berjudulAnahuac, or Mexico and The Mexicans, Ancient and Modern (1861) yang berisikan tentang kebudayaan meksiko kuno. Menjadi guru besar Universitas Oxford dalam tahun 1883. Memiliki cara berpikir evolusionisme. Dia melakukan sebuah penelitian dengan pokok unsur-unsur kebudayaan seperti system religi, kepercayaan, kesusasteraan, adat istiadat, upacara, dan kesenian, menghasilkan karya dua jilid dengan judul PrimitiveCulture: Researches into the Development of Mythology, Philosophy, Religion, Language, Art and Custom (1874) yang menerangkan tentang asal mula religi. Tylor berpendapat bahwa asal mula religi itu adalah kesadaran manusia akan adanya jiwa yang disebabkan oleh dua hal.
Perbedaan yang tampak pada manusia antara hal-hal yang hidup dan hal-hal yang mati. Satu orgasnime pada satu saat bergerak-gerak, artinya hidup, tetapi tak lama kemudian orgasnime itu juga tidak bergerak lagi, artinya mati. Maka manusia mulai sadar akan adanya suatu kekuatan yang menyebakan gerak itu, yaitu jiwa.
Peristiwa mimpi. Dalam mimpinya manusia melihat dirinya di tempat-tempat lain (bukan di tempat di mana ia sedang tidur). Maka manusia mulai membedakan antara tubuh jasmaninya yang ada di tempat tidur dan suatu bagian lain dari dirinya yang pergi ke tempat-tempat lain. Bagian itulah yang di sebut dengan jiwa.
Sifat abstrak dari jiwa itu menimbulkan keyakinan pada manusia bahwa jiwa dapat hidup langsung., lepas dari tubuh jasmaninya. Tylor berpendirian bahwa meskipun jiwa sedang melayang, hubungannya dengan jasmani tetap terjaga saat manusia tidur atau pingsan. Namun, bila telah mati, jiwa dan jasmani telah berpisah dan tidak memiliki hubungan lagi. Apabila jasmani telah menjadi abu dalam proses pembakaran, jiwa akan merdeka. Semakin banyak kematian, semakin dunia ini dipenuhi oleh jiwa-jiwa itu. Dalam hal ini, jiwa jiwa tidak lagi disebut sebagai soul, melainkan spirit atau makhluk halus (roh). Kemudian manusia percaya bahwa roh-roh tersebut ada, tinggal, dan juga hidup di sekeliling mereka. Roh memilki wujud transparan sehingga tidak dapat tertangkap oleh pancaindera, diyakini mampu melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh manusia, menyebabkan roh-roh tersebut mendapat tempat terpenting dalam kehidupan manusia yang kemudian menjadi objek penyembahan dan penghormatan, disertai dengan berbagai upacara berupa doa, sajian atau korban, yang oleh taylor disebut animism.
Kemudian Taylor menerangkan religi itu dengan cara berpikir evolusionisme yaitu animisme merupakan bentuk religi tertua yang pada dasarnya animisme adalah keyakinan kehidupan roh-roh nenek moyang disekitar manusia. Kemudian dalam alam semesta juga dikendalikan oleh jiwa yang ada dibalik gejala dan peristiwa alam. Jiwa alam itu dipersonifikasikan dalam bentuk makhluk yang memiliki kemampuan berpikir, yang disebut dewa-dewa.  Kemudian timbul lagi keyakinan bahwa adanya kerumunan dan susunan dewa-dewa di langit layaknya seperti kerumunan dan susunan manusia di bumi. Pada akhirnya, manusia sadar bahwa dalam sebuah kerumunan pasti ada yang memimpin. Dari situlah berkembang keyakinan akan Tuhan, sebagai tingkatan terakhir munculnya monotheisme.
Penelitian Tylor mengenal tingkatan evolusi kebudayaan melahirkan konsep survival yaitu unsure-unsur kebudayaan yang tidak dapat mempengaruhi sebuah kebudayaan menjadi kebudayaan teladan, sehingga tidak dapat dimasukan pada tingkat teori evolusi tertentu, namun dapat dijadikan apabila memakai unsur-unsur sisa dari kebudayaan-kebudayaan yang berasal dari tingkat evolusi sebelumnya. Unsur itu sendirilah yang disebut dengan survival, yang akan menjadi alat terpenting bagi penganut evolusionisme dalam menganalisis kebudayaan-kebudayaan dan tidak meningkatkan evolusi dari tiap kebudayaan.
C.                Aplikasi Teori
1.                  Hubungan Badan dan Roh Menurut Falsafah Tengger
Masyarakat Tengger mempunyai kepercayaan menyembah roh asal mulanya dulu Joko Seger dan Roro Anteng belum dikaruniai anak dan akhirnya setelah menyembah roh-roh para dewa mereka di karuniai anak dan para dewa tersebut meminta anak terakhir dari mereka untuk dijadikan tumbal. Ketika mereka tidak ingin melepaskan anak terakhirnya kepada roh-roh para dewa yang akan menjadikannya sebagai tumbal, terjadilah letusan gunung Bromo. Itu semua karena akibat dari Joko Seger dan Roro Anteng yang tidak ingin memberikan anak terakhirnya untuk tumbal roh-roh para dewa. Dalam hal ini, teori evolusi religi menurut E.B Tylor adalah menyembah roh-roh untuk menganut sebuah kepercayaannya.
Masyarakat Tengger beranggapan bahwa badan manusia itu hanya merupakan pembungkus sukma (roh). Sukma adalah badan halus yang bersifat abadi. Jika orang meninggal, badannya pulang ke pertiwi (bumi), sedangkan sukmanya terbebas dari mengalami suatu proses penyucian di dalam neraka, dan selama itu mereka mengembara tidak mempunyai tempat berhenti. Cahaya, api dan air dari arah timur akan melenyapkan semua kejahatan yang dialami sukma sewaktu berada di dalam badan.
Masyarakat Tengger percaya bahwa neraka itu terdiri dari beberapa bagian. Bagian terakhir ialah bagian timur yang disebut juga kawah candra dimuka, yang akan menyucikan sukma sehingga menjadi bersih dan suci serta masuk surga. Hal ini terjadi pada hari ke-1000 sesudah kematian dan melalui upacara Entas-entas.
2.                  Agama Masyarakat suku tengger
            Agama masyarakat suku Tengger adalah agama hindu yang masih mewarisi tradisi hindu sejak zaman kejayaan majapahit. Namun saat ini juga masyarakat tersebut yang menganut agama lain yaitu: Islam, Kristen Protestan, Khatolik serta Budha. Walaupun orang Tengger beragama Hindu, mereka tidak dapat dapat dianggap sebagai kelompok etnis berbeda dari orang jawa yang lain. Mereka adalah orang Hindu tetapi tidak melakukan pembakaran mayat seperti orang Hindu di Bali. Namun demikian, selama sejarah manusia Tengger daerahnya dikurangi oleh orang pendatang yang beragama Islam dari daerah lain di Jawa. Sampai tengah abad 19 kebanyakan desa-desa Tengger lebih rendah dari 1400m dikuasai oleh pendatang yang beragama Islam. Upacara yang terkenal adalah upacara kasada terkenal hingga manca Negara dan selalu ramai dihadiri banyak turis luar negeri maupun lokal.
            Masyarakat tengger mayoritas memeluk agama Hindu, namun agama Hindu yang dianut bukan Hindu Dharma seperti yang ada di Bali, Hindu yang berkembang di masyarakat tengger adalah Hindu Mahayana. Bagi suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada (Kasodo). Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo.
            Perpindahan agama orang Tengger dari agama Brahma ke Hindu Parsi tersebut ternyata tidak serta merta menghilangkan seluruh kepercayaan awal mereka. Orang Tengger masih tetap melakukan ajaran Budha termasuk kebiasaan yang pada akhirnya dianut juga oleh penganut Hindu Parsi.
Masyarakat Tengger mempercayai Sang Hyang Agung, roh para leluhur, hukum karma, reinkarnasi, dan moksa. Kepercayaan masyarakat Tengger terhadap roh diwujudkan sebagai danyang (makhluk halus penunggu desa) yang di puja di sebuah punden.
Punden tersebut biasanya terletak di bawah pohon besar atau dibawah batu besar. Roh leluhur pendiri desa mendapatkan dibawah batu besar. Roh leluhur pendiri desa mendapatkan pemujaan yang lebih besar di sanggar pemujaan. Setahun sekali masyarakat suku tengger mengadakan upacara pemujaan roh leluhur di kawah Gunung Bromo yang disebut dengan upacara Kasada. Ajaran agama tersebut di satukan dalam sebuah kitab suci yang ditulis di atas daun lontar yang dikenal dengal nama Primbon.
Sesaji dan mantra amat kental pengaruhnya dalam masyarakat suku Tengger. Masyarakat Tengger percaya bahwa mantra-mantra yang mereka pergunakan adalah mantra-mantra putih bukan mantra hitam yang sifatnya merugikan.
Dalam melaksanakan peribadatan, masyarakat Tengger melakukan ibadah di punden, danyang dan poten. Poten adalah tempat pemujaan bagi masyarakat Tengger yang beragama Hindu. Keberadaan poten ada pada sebidang lahan di lautan pasir sebagai tempat berlangsungnya upacara Kasada. Poten terdiri dari beberapa bangunan yang ditata dalam suatu susunan komposisi di pekarangan yang dibagi menjadi tiga Mandala/zona yakni Mandala utama (Jeroan), Mandala Madya (jaba tengah) dan mandala Nista (Jaba sisi).



BAB III
PENUTUP
A.    Daftar Pustaka



   

    

0 komentar:

Posting Komentar