Teori Evolusi Religi E.B. Tylor dan Aplikasi Teori berdasarkan KKL 1 Sosant Goes to Bromo
Disusun
guna memenuhi tugas UTS Semester 2 mata kuliah Teori Antropologi
Dosen
Pengampu : Asma Luthfi
Di susun
oleh:
Nama : Sekar Arum Ngarasati
NIM : 3401413026
Rombel : 1
JURUSAN SOSIOLOGI ANTROPOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013
BAB I
BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia adalah masyarakat yang majemuk. Indonesia
memiliki berbagai berbedaan, tetapi dalam perbedaan itu tidak membuat Indonesia
menjadi terpecah belah. Indonesia memiliki berbagai agama, tetapi masyarakatnya
menjunjung tinggi toleransi satu sama lain agar tidak terjadi kesenjangan antar
agama.
Setiap manusia
memiliki agama atau religi masing-masing, hanya orang tertentu yang tidak percaya
kepada Tuhan atau yang biasa disebut dengan atheis. Dalam hal ini, masyarakat
di desa Ngadas menganut agama Hindu 99 % dan Islam 1 %. Agama yang ada di
Indonesia berkembang membutuhkan waktu yang agak lama karena dalam hal ini
termasuk teori evolusi religi. Teori evolusi religi kali ini menurut tokoh Sir
Edward Burnett Tylor.
Sir Edward Burnett Tylor (2
Oktober 1832 - 2 Januari 1917), Antropolog dari
Inggris yang berdiri mewakilievolusionisme budaya yang ia tampakkan dalam
karya-karyanya Primitive Culture danAnthropology, ia mendefinisikan
konteks penelitian ilmiah antropologi, berdasarkan teori evolusi Charles Lyell.
Dia percaya bahwa ada sifat universal dalam setiap kebudayaan terutama dalam
masyarakat dan agama. E B Tylor dianggap oleh banyak orang sebagai tokoh
pendiri ilmu antropologi sosial, dan karya ilmiah itu dilihatkontribusinya pada
disiplin Antropologi yang mulai terbentuk di abad ke-19. Dia percaya penelitian
yang menjadi sejarah dan prasejarah manusia dapat digunakan sebagai dasar bagi
perubahan agama masyarakat. Awal karirnya dimulai pada saat perjalanannya ke
Meksiko pada tahun1856 meskipun hanya sebagai asisten peneliti dan dianggap
mempunyai keahlian dibidang arkeologi tetapi hasil dari ekspedisi tersebut ia
sempatkan untuk menulis sebuah karyanya yang pertama berjudul Anahuac, or
Meksiko and Mexicans, Ancient and Modern (1861).
Dia memperkenalkan kembali istilah
animisme (iman di dalam jiwa individu atau anima segala sesuatu, dan
manifestasi alam) yang umum digunakan dalam masyarakat
primitive. Pendapatnya yang menganggap animisme dalam evolusi religi
sebagai tahap pertama pembangunan agama. Seperti yang juga dtuliskan
Koentjraningrat tentang tahapan sebuah evolusi mengenai religi pada tingkat
tertua dalam evolusi, manusia percaya bahwa mahluk-mahluk halus (sifat
abstrak dari manusia yang menimbulkan keyakinan bahwa jiwa dapat hidup
langsung, lepas dari tubuh jasmaninya).
Tentang paham dari Tylor tergambarkan
dalam karyanya yang paling terkenal, yakni bukunya yang terbit 2
jilid, Primitve Culture. Dalam edisi pertama, The Origins of
Culture, Ia memberikan pemahaman mengenai berbagai aspek etnografi
termasuk evolusi sosial, linguistik, dan mitos. Dalam edisi kedua,
berjudul Religion in Primitive Culture, berkaitan dengan penafsirannya
tentang animisme. Pada halaman pertamaPrimitve Culture, Tylor memberikan
definisi yang paling luas Kebudayaan: "Budaya, atau peradaban, yang
diambil dalam arti luas, etnografi, adalah bahwa keseluruhan kompleks yang
mencakup pengetahuan, kepercayaan , seni, moral, hukum, adat, dan setiap
kemampuan lain dan kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Tidak seperti pendahulunya dan sezaman, Tylor menegaskan bahwa pikiran manusia
dan kemampuan manusia pada dasarnya bersifat sama dan universal, terlepas dari
tahap masyarakat tertentu dalam evolusi sosial. Dalam pengertian ini
diasumsikan bahwa kemampuan intelejensi masyarakat berburu tak jauh berbeda
dengan masyarakat industri.
Bagi E Taylor, seorang ahli antropolog
semestinya mempelajari sebanyak mungkin kebudayaan yang sangat beragam di muka
bumi, mengumpulkan semuaunsur-unsur kebudayaan yang kemudian
mengklasifikasikannya berdasarkan persamaan unsur tersebut agar tampat
tahapan-tahapan evolusi kebudayaan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Deskripsi
lokasi
Ngadas adalah sebuah desa yang berada
paling ujung timur Kabupaten Malang. Desa Ngadas merupakan satu-satunya desa
yang masih mempertahankan adat Tengger di Kabupaten Malang. Masyarakatnya
sembilan puluh sembilan persen adalah warga suku Tengger, merupakan sisa-sisa
atau keturunan masyarakat Kerajaan Majapahit yang melarikan diri sejak
berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di tanah Jawa. Lokasinya di ujung timur
kabupaten yang terpisah dengan desa lain membuat desa ini sangat orisinil dalam
manjalankan ada dan budaya Tengger. Baik adat desa maupun spiritualitas.
Desa Ngadas yang terletak di lereng
Gunung Semeru dan Gunung Bromo tidak ubahnya seperti desa lainnya di wilayah
kabupaten. Yang membedakan adalah kebudayaan Suku Tengger yang tetap terjaga
kuat di desa ini. Padahal masyarakatnya sangat plural dari sisi keyakinan.
Sebab, di desa ini sekitar 1.820 warganya menganut agama yang beragam. Ada yang
beragama Islam, Buddha, dan Hindu.
Keelokan Desa Ngadas, Kecamatan
Poncokusumo, Kabupaten Malang, bukan saja pada panorama alamnya, tapi juga
keanegaragaman adat istiadat dan budaya di dalamnya. Desa yang dihuni Suku
Tengger itu mampu mempertahankan budaya di tengah derasnya arus globalisasi.
Luas daerah Tengger kurang lebih 40 km
dan utara ke selatan; 20-30 km dan timur ke barat, di atas ketinggian antara
1000m - 3675 m. Daerah Tengger teletak pada bagian dari empat kabupaten, yaitu
: Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang. Tipe permukaan tanahnya
bergunung-gunung dengan tebing-tebing yang curam. Kaldera Tengger adalah lautan
pasir yang terluas, terletak pada ketinggian 2300 m, dengan panjang 5-10 km.
Kawah Gunung Bromo, dengan ketinggian 2392 m, dan masih aktif . Di sebelah
selatan menjulang puncak Gunung Semeru dengan ketinggian 3676 m.
Keadaan tanah daerah Tengger gembur
seperti pasir, namun cukup subur. Tanaman keras yang tumbuh terutama adalah
agathis laranthifolia, pinus merkusii, tectona, grandis leucaena, dan swietenia
altingia excelsa, anthocepalus cadamba. Di kaki bukit paling atas ditumbuhi
pohon cemara sampai di ketinggian 3000 dpl yaitu lereng Gunung Semeru. Tumbuhan
utamanya adalah pohon-pohonan yang tinggi, pohon elfin dan pohon cemara,
sedangkan tanam-tanaman pertanian terutama adalah kentang, kubis, wortel,
jagung,bawang prei (plompong tengger) dsb.
Iklim daerah Tengger adalah hujan dan
kemarau. Musim kemarau terjadi antara bulan Mei-Oktober. Curah hujan di
Sukapura sekitar 1800 mm, sedangkan musim hujan terjadi pada bulan
November-April, dengan persentase 20 hari/lebih hujan turun dalam satu bulan.
Suhu udara berubah-ubah, tergantung ketinggian, antara 3 - 18 Celsius. Selama
musim hujan kelembaban udara rata-rata 80%. Temperaturnya sepanjang hari terasa
sejuk, dan pada malam hari terasa dingin. Pada musim kemarau temperatur malam
hari terasa lebih dingin daripada musim hujan. Pada musim dingin biasanya
diselimuti kabut tebal. Di daerah perkampungan, kabut mulai menebal pada sore
hari. Di daerah sekitar puncak Gunung Bromo kabut mulai menebal pada pagi hari
sebelum fajar menyingsing.
Di
desa Ngadas yang mayoritas penduduknya 99 % menganut agama Hindu dan 1 % dari
penduduknya beragama Islam. Penduduk desa Ngadas adalah sebanyak 682 jiwa dan
pembagiannya sebanyak 335 adalah laki-laki dan 347 adalah perempuan. Pendidikan
di desa Ngadas dengan rata-rata tamat pendidikan mereka hanya SD, S1 hanya 3
orang, dan SMA hanya 62 orang.
Masyarakat Suku Tengger tidak mengenal dualisme kepemimpinan ,walaupun
ada yang namanya Dukun adat. Tetapi secara formal pemerintahan dan adat , Suku
Tengger dipimpin oleh seorang Kepala Desa ( Petinggi ) yang sekaligus adalah
Kepala Adat. Sedangkan Dukun diposisikan sebagai pemimpin Ritual / Upacara
Adat.
B.
Landasan
Teori
Edward B Taylor (1832-1917)
adalah orang inggris dan seorang arkeolog. Dengan karangan pertamanya yang
menakjubkan mengenai ekspedisinya ke meksiko berjudulAnahuac, or Mexico and The
Mexicans, Ancient and Modern (1861) yang berisikan tentang kebudayaan meksiko
kuno. Menjadi guru besar Universitas Oxford dalam tahun 1883.
Memiliki cara berpikir evolusionisme. Dia melakukan sebuah penelitian dengan
pokok unsur-unsur kebudayaan seperti system religi, kepercayaan, kesusasteraan,
adat istiadat, upacara, dan kesenian, menghasilkan karya dua jilid dengan
judul PrimitiveCulture: Researches into the Development of
Mythology, Philosophy, Religion, Language, Art and
Custom (1874) yang menerangkan tentang asal mula religi. Tylor berpendapat
bahwa asal mula religi itu adalah kesadaran manusia akan adanya jiwa yang
disebabkan oleh dua hal.
Perbedaan yang tampak pada manusia
antara hal-hal yang hidup dan hal-hal yang mati. Satu orgasnime pada satu saat
bergerak-gerak, artinya hidup, tetapi tak lama kemudian orgasnime itu juga
tidak bergerak lagi, artinya mati. Maka manusia mulai sadar akan adanya suatu
kekuatan yang menyebakan gerak itu, yaitu jiwa.
Peristiwa mimpi. Dalam mimpinya manusia
melihat dirinya di tempat-tempat lain (bukan di tempat di mana ia sedang
tidur). Maka manusia mulai membedakan antara tubuh jasmaninya yang ada di
tempat tidur dan suatu bagian lain dari dirinya yang pergi ke tempat-tempat
lain. Bagian itulah yang di sebut dengan jiwa.
Sifat abstrak dari jiwa itu menimbulkan
keyakinan pada manusia bahwa jiwa dapat hidup langsung., lepas dari tubuh
jasmaninya. Tylor berpendirian bahwa meskipun jiwa sedang melayang, hubungannya
dengan jasmani tetap terjaga saat manusia tidur atau pingsan. Namun, bila telah
mati, jiwa dan jasmani telah berpisah dan tidak memiliki hubungan lagi. Apabila
jasmani telah menjadi abu dalam proses pembakaran, jiwa akan merdeka. Semakin
banyak kematian, semakin dunia ini dipenuhi oleh jiwa-jiwa itu. Dalam hal ini,
jiwa jiwa tidak lagi disebut sebagai soul, melainkan spirit atau
makhluk halus (roh). Kemudian manusia percaya bahwa roh-roh tersebut ada,
tinggal, dan juga hidup di sekeliling mereka. Roh memilki wujud transparan
sehingga tidak dapat tertangkap oleh pancaindera, diyakini mampu melakukan
hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh manusia, menyebabkan roh-roh tersebut
mendapat tempat terpenting dalam kehidupan manusia yang kemudian menjadi objek
penyembahan dan penghormatan, disertai dengan berbagai upacara berupa doa,
sajian atau korban, yang oleh taylor disebut animism.
Kemudian Taylor menerangkan religi itu
dengan cara berpikir evolusionisme yaitu animisme merupakan bentuk religi
tertua yang pada dasarnya animisme adalah keyakinan kehidupan roh-roh nenek
moyang disekitar manusia. Kemudian dalam alam semesta juga dikendalikan oleh
jiwa yang ada dibalik gejala dan peristiwa alam. Jiwa alam itu
dipersonifikasikan dalam bentuk makhluk yang memiliki kemampuan berpikir, yang
disebut dewa-dewa. Kemudian timbul lagi keyakinan bahwa adanya kerumunan
dan susunan dewa-dewa di langit layaknya seperti kerumunan dan susunan manusia
di bumi. Pada akhirnya, manusia sadar bahwa dalam sebuah kerumunan pasti ada
yang memimpin. Dari situlah berkembang keyakinan akan Tuhan, sebagai tingkatan
terakhir munculnya monotheisme.
Penelitian
Tylor mengenal tingkatan evolusi kebudayaan melahirkan konsep survival yaitu
unsure-unsur kebudayaan yang tidak dapat mempengaruhi sebuah kebudayaan menjadi
kebudayaan teladan, sehingga tidak dapat dimasukan pada tingkat teori evolusi
tertentu, namun dapat dijadikan apabila memakai unsur-unsur sisa dari
kebudayaan-kebudayaan yang berasal dari tingkat evolusi sebelumnya. Unsur itu
sendirilah yang disebut dengan survival, yang akan menjadi alat terpenting bagi
penganut evolusionisme dalam menganalisis kebudayaan-kebudayaan dan tidak
meningkatkan evolusi dari tiap kebudayaan.
C.
Aplikasi
Teori
1.
Hubungan
Badan dan Roh Menurut Falsafah Tengger
Masyarakat Tengger mempunyai kepercayaan
menyembah roh asal mulanya dulu Joko Seger dan Roro Anteng belum dikaruniai
anak dan akhirnya setelah menyembah roh-roh para dewa mereka di karuniai anak
dan para dewa tersebut meminta anak terakhir dari mereka untuk dijadikan
tumbal. Ketika mereka tidak ingin melepaskan anak terakhirnya kepada roh-roh
para dewa yang akan menjadikannya sebagai tumbal, terjadilah letusan gunung
Bromo. Itu semua karena akibat dari Joko Seger dan Roro Anteng yang tidak ingin
memberikan anak terakhirnya untuk tumbal roh-roh para dewa. Dalam hal ini,
teori evolusi religi menurut E.B Tylor adalah menyembah roh-roh untuk menganut
sebuah kepercayaannya.
Masyarakat Tengger beranggapan bahwa
badan manusia itu hanya merupakan pembungkus sukma (roh). Sukma adalah badan
halus yang bersifat abadi. Jika orang meninggal, badannya pulang ke pertiwi
(bumi), sedangkan sukmanya terbebas dari mengalami suatu proses penyucian di
dalam neraka, dan selama itu mereka mengembara tidak mempunyai tempat berhenti.
Cahaya, api dan air dari arah timur akan melenyapkan semua kejahatan yang
dialami sukma sewaktu berada di dalam badan.
Masyarakat
Tengger percaya bahwa neraka itu terdiri dari beberapa bagian. Bagian terakhir
ialah bagian timur yang disebut juga kawah candra dimuka, yang akan menyucikan
sukma sehingga menjadi bersih dan suci serta masuk surga. Hal ini terjadi pada
hari ke-1000 sesudah kematian dan melalui upacara Entas-entas.
2.
Agama
Masyarakat suku tengger
Agama masyarakat suku Tengger adalah
agama hindu yang masih mewarisi tradisi hindu sejak zaman kejayaan majapahit.
Namun saat ini juga masyarakat tersebut yang menganut agama lain yaitu: Islam,
Kristen Protestan, Khatolik serta Budha. Walaupun orang Tengger beragama Hindu,
mereka tidak dapat dapat dianggap sebagai kelompok etnis berbeda dari orang
jawa yang lain. Mereka adalah orang Hindu tetapi tidak melakukan pembakaran
mayat seperti orang Hindu di Bali. Namun demikian, selama sejarah manusia
Tengger daerahnya dikurangi oleh orang pendatang yang beragama Islam dari
daerah lain di Jawa. Sampai tengah abad 19 kebanyakan desa-desa Tengger lebih
rendah dari 1400m dikuasai oleh pendatang yang beragama Islam. Upacara yang
terkenal adalah upacara kasada terkenal hingga manca Negara dan selalu ramai
dihadiri banyak turis luar negeri maupun lokal.
Masyarakat tengger mayoritas memeluk agama Hindu, namun
agama Hindu yang dianut bukan Hindu Dharma seperti yang ada di Bali, Hindu yang
berkembang di masyarakat tengger adalah Hindu Mahayana. Bagi suku Tengger,
Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat
Tengger mengadakan upacara Yadnya
Kasada (Kasodo). Upacara ini bertempat di sebuah pura
yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung
Bromo.
Perpindahan
agama orang Tengger dari agama Brahma ke Hindu Parsi tersebut ternyata tidak
serta merta menghilangkan seluruh kepercayaan awal mereka. Orang Tengger masih
tetap melakukan ajaran Budha termasuk kebiasaan yang pada akhirnya dianut juga
oleh penganut Hindu Parsi.
Masyarakat Tengger
mempercayai Sang Hyang Agung, roh para leluhur, hukum karma, reinkarnasi, dan
moksa. Kepercayaan masyarakat Tengger terhadap roh diwujudkan sebagai danyang
(makhluk halus penunggu desa) yang di puja di sebuah punden.
Punden tersebut biasanya terletak di bawah pohon besar atau
dibawah batu besar. Roh leluhur pendiri desa mendapatkan dibawah batu besar.
Roh leluhur pendiri desa mendapatkan pemujaan yang lebih besar di sanggar
pemujaan. Setahun sekali masyarakat suku tengger mengadakan upacara pemujaan
roh leluhur di kawah Gunung Bromo yang disebut dengan upacara Kasada.
Ajaran agama tersebut di satukan dalam sebuah kitab suci yang ditulis di atas
daun lontar yang dikenal dengal nama Primbon.
Sesaji dan mantra
amat kental pengaruhnya dalam masyarakat suku Tengger. Masyarakat Tengger
percaya bahwa mantra-mantra yang mereka pergunakan adalah mantra-mantra putih
bukan mantra hitam yang sifatnya merugikan.
Dalam melaksanakan peribadatan, masyarakat Tengger melakukan
ibadah di punden, danyang dan poten. Poten adalah tempat pemujaan bagi
masyarakat Tengger yang beragama Hindu. Keberadaan poten ada pada sebidang
lahan di lautan pasir sebagai tempat berlangsungnya upacara Kasada. Poten
terdiri dari beberapa bangunan yang ditata dalam suatu susunan komposisi di pekarangan
yang dibagi menjadi tiga Mandala/zona yakni Mandala utama (Jeroan),
Mandala Madya (jaba tengah) dan mandala Nista (Jaba sisi).
BAB III
PENUTUP
A. Daftar Pustaka







0 komentar:
Posting Komentar